Petani Pringgarata Mulai Berpaling Ke Hybrida

LOTENG – Gabungan kelompok tani (Gapoktan) ”Surya Tani”, Pringgarata, Lombok Tengah, mulai berpaling ke benih hybrida. Selain manfaat kualitas dan kuantitas produksi, mereka juga mengenyam teknologi baru.

Dua kali musim tanam sudah areal persawahan lebih kurang 500 hektare ini mendiversifikasi benih unggulan padi jajar legowo 2:1 (baca, dua banding satu) dan jagung. Sepanjang itu pula produksi melesat, 10 hingga 15 persen persekali panen.

Kabar yang diperoleh media ini menyebutkan, keberhasilan yang direguk para petani Pringgarata dan sekitarnya tersebut berkat dukungan kemitraan. Terutama tim penyuluhan terpadu yang dimotori Micra Foundation, PT. Asian Crop Solution (ACS) Jepang, dan sebuah distributor pestisida nasional, Syngenta.

“Kami hanya membantu petani di sini (Pringgarata, khususnya dan Lombok pada umumnya) untuk merubah paradigma tentang penerapan teknologi mutu dan hasil pertaniannya,” ujar Ir Lalu M Syafriari, Koordinator Penyuluhan, kemarin (12/2/2014), di sela kegiatan penyuluhan di lokasi salah satu kelompok tani (Koptan) binaan Surya Tani.

“Lombok Tengah ini dikenal sebagai lumbung pangan Pulau Lombok, bahkan NTB. Namun demikian, khusus areal Pringgarata ini sebelumnya merupakan daerah endemis penyakit tanaman padi, blas dan gresek,” lanjut mantan penjabat Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Tengah ini.

Ia mengaku bersyukur karena masyarakat tani Pringgarata bersedia menerima uluran tangan pihaknya. Meski dalam pelaksanaan di lapangan selama ini membutuhkan kesabaran, kecermatan, dan kesungguhan dalam pelayanan.

Alih teknologi

Belum mantapnya kesadaran dan keyakinan petani pada umumnya untuk alih teknologi, diakui langsung pemilik sapaan, Syafri, ini. Namun semua itu diatasinya melalui pembinaan dan pendampingan secara kontinyu kepada setiap wilayah binaannya.

“Semua itu harus berproses, karena kami memang tidak sekedar mengawali saja, tetapi juga mendampingi,” Syafri menegaskan.

Ia juga menuturkan daya upaya dan sumbangan pemikiran yang dilakukan pihaknya demi mengatasi permasalahan yang dihadapi para petani. Mulai soal penyediaan benih unggulan (bahkan bisa dibeli dengan cara cicil), pupuk, hingga akses pemasaran hasil produksi melalui pola kemitraan.

(Arwan)