LOBAR – Posisi NTB wilayah bagian tengah di “Segitiga Emas Perbenihan Indonesia” sangat menguntungkan bagi pengusaha benih di NTB. Namun berbagai kendala dalam mewujudkan perbenihan di NTB sehingga bisa diakui berkualitas, baik konsumen lokal maupun nasional. Sapri Mardi, salah satu produsen sekaligus penyalur benih asal Lombok Barat mengaku memiliki strategi sendiri sehingga usaha perbenihan yang dijalani terus maju dan berkembang.

Salah satu strategi untuk menjaga hasil produksi benih berkualitas, ia mengaku dengan memiliki penglaman puluhan tahun berkecimpung di perbenihan, disamping sudah menguasai karakter petani bahkan kelompok-kelompok penangkar benih di NTB. Hingga saat ini, Sapri Mardi menguasai perbenihan di NTB, bahkan dikenal sebagai pengusaha perbenihan ulung di NTB.

Dalam usaha perbenihannya, Sapri Mardi menginvestasikan puluhan hektare lahannya untuk membangun fasilitas gudang sekaligus tempat penjemuran serta fasilitas lain untuk proses produksi benih yang diproduksi UD Karunia Tani miliknya.

Melalui hubungan harmonis yang diciptakan Sapri Mardi juga, bagi penangkar benih di wilayah NTB namanya tidak asing, bahkan tidak jarang membawa nama baik NTB sebagai satu-satunya penyalur benih yang berkualitas di tingkat nasional. “Segitiga Emas Perbenihan Indonesia yaitu, wilayah bagian barat (Bali, Jawa dan Sumatra), wilayah bagian tengah (NTB), wilayah bagian utara (Kalimantan dan Sulawesi) dan wilayah bagian timur (NTT dan irian Jaya). Sehingga posisi NTB di wilayah bagian tengah sebagai Segitiga Emas Indonesia sangat menguntungkan, karena penyaluran benih dari NTB berpeluang besar ke wilayah timur, barat dan utara”, terang Sapri Mardi, Kemarin di Lombok Barat.

Dari jumlah permintaan benih asal NTB di tingkat nasional, setiap tahunnya mengalami peningkatan signifikan. Seperti benih padi, kedelai dan jagung dari NTB paling diminati di berbagai wilayah di Indonesia, karena hasil produksi benih yang dihasilkan terutama dari UD Karunia Tani milik Sapri Mardi sering kebanjiran permintaan.

Karena itu, sangat wajar dan harus mendapat respon bahkan apresiasi dari pemerintah terutama dari dinas terkait di NTB. Ia juga mengaku, pola kerja cepat yang diterapkan dinilai berhasil oleh rekan-rekan pengusaha penangkar benih di wilayahnya. Sehingga enterpreneur perbenihan yang dimiliki, berbuah dipercaya sebagai ketua koperasi Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) Provinsi NTB.

Ia menilai, dukungan pemerintah dalam memperjuangkan nama NTB untuk mendapat predikat benih terbaik di mata konsumen, baik ditingkat nasional bahkan di dunia internasional, agar tidak setengah hati memberikan bantuan. “Toh ini juga untuk mendukung program pemerintah daerah”, ujarnya.

Tanggapan Husni Fahri

Kadis Pertanian TPH NTB, Ir Husni Fahri menanggapi positif posisi provinsi NTB sebagai wilayah yang diuntungkan di “Segitiga Emas Perbenihan Indonesia”. Ia menilai ide Segitiga Emas Perbenihan Indonesia yang tercetus dari Sapri Mardi, Ketua Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo) NTB ini, sebagai ide bagus untuk mendukung program pembangunan pemerintah daerah bahkan pemrintah pusat.

“Ini, harus didukung, karena memang produksi benih kita di NTB diakui daerah lain sebagai benih berkualitas terutama benih kedelai”, kata Husni Fahri, pada Jumat (4/4) di Mataram.

Menurut Dia, potensi NTB di Segitiga Emas Perbenihan Indonesia, sangat layak diuntungkan, selain diakui memiliki produksi benih yang berkualitas, pangsa pasar yang ada di wilayah barat (Sumatra, Jawa dan Bali), wilayah utara (Kalimantan dan Sulawesi) dan wilayah bagian timur (NTT dan Irian Jaya) akan berpihak kepada pengusaha benih di NTB. “Pengusaha benih kita sangat diuntungkan”, ujarnya.

Untuk itu, kata Husni Fahri, pihaknya akan mendorong laju pertumbuhan koperasi Asbenindo NTB sebagai payung bagi penangkar benih di NTB. Ia juga mengatakan, pihaknya akan terus melakukan koodinasi dengan pihak Dinas Koperasi UMKM NTB untuk membantu Koperasi Asbendindo NTB untuk lebih cepat dikenal di tingkat nasional.

[Gus]