SEBUAH PRESTASI yang disumbang untuk daerah melalui pertanian dibidang perbenihan patut mendapat apresiasi dari pemerintah daerah, bahkan pemerintah pusat. Kerja keras dan perjuangan Sapri Mardi selaku stake holder produsen dan penyalur benih terbesar di NTB telah mampu meningkatkan hasil dengan kualitas benih NTB yang diakui baik lokal maupun di luar daerah, bahkan menciptakan surplus benih di NTB.

Buktinya, tahun 2012, seperti yang dirilis situs pemerintah kabupaten (Pemkab) Lombok Barat (Lobar), 60 persen benih padi di NTB di suplay Lombok Barat, atas peran terbesar produsen dan penyalur benih UD Karunia Tani milik Sapri Mardi.

Surplus benih di NTB terjadi, diperkuat pernyataan Pemkab Lobar melalui Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan (Dispertanakbun) Lobar, Ir H Chairul Bakhtiar MM,  bahwa pada tahun 2012, Lobar mampu menghasilkan 4.322 ton benih padi jauh di atas kebutuhan benih Lobar yang hanya 726 ton atau 17 persen. Untuk NTB saja, Lobar menjadi penyuplai benih padi terbesar yaitu mencapai 60 persen benih yang dibutuhkan di 9 kabupaten/kota lainnya di NTB. Tak hanya itu, 83 persen benih Lobar selain 17 persen yang dipakainya sendiri,  diantarpulaukan ke Jawa dan Bali. Kondisi ini menjadikan Lobar sebagai salah satu kabupaten yang bisa mendukung program nasional 2014 yaitu Surplus 10 juta ton beras.

Pemkab Lobar juga melalui Bupati Dr H Zaini Arony, menyambut gembira prestasi UD Karunia Tani. Sambutan atas prestasi itu diungkapkan Bupati Lobar ketika menghadiri pengukuhan Asosiasi Perbenihan Indonesia (ASBENINDO) Lobar di UD Karunia Tani di dusun Jerangoan, desa Krama Jaya, kecamatan Narmada, pada 19 Februari 2013 silam.

Selain merasa gembira, Zaini Arony juga mengapresiasi kesuksesan UD Karunia Tani sebagai sebuah prestasi Lobar. Bupati Zaini menyebut hasil padi Lobar tahun 2012 saja lebih dari 171 ribu ton atau setara dengan sekitar 107 ribu ton beras, sementara kebutuhan beras di Lobar hanya 80 ribu ton. “Kita mengalami surplus lebih dari 20 ribu ton,” ujar Zaini dikutip dari rilis situs Pemkab Lobar.  Tidak itu saja, akhir 2012, kecamatan Lingsar mampu menghasilkan 10,6 ton padi/hektar. Sektor Pertanian juga, mampu menyerap 34 persen tenaga kerja dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 25 persen.

Pengukuhan ASBENINDO Lombok Barat

Tanggal 9 Februari 2013, Sapri Mardi dikukuhkan sebagai ketua Umum Asbenindo Lobar oleh Bupati Lobar, Zaini Arony. Dalam laporannya, Asbenindo Lobar periode 2013-2014 memiliki beberapa tujuan diantaranya meningkatkan kerjasama penangkar, produsen dan penjual benih termasuk dengan BUMN dan Bank. “Selama ini bekerja secara sendiri-sendiri, diharapkan dengan asosiasi ini hasilnya bisa lebih besar,” kata Sapri Mardi.

Asbenindo Lobar, yang beranggotakan 51 orang yang terdiri atas penangkar, produsen, pedagang benih serta kelompok-kelompok tani yang memproduksi benih padi. Aset yang dimiliki ASBENINDO Lobar berupa pergudangan seluas 2350 m2, lantai jemur serta permodalan dengan asset sekitar Rp 16,7 M.

Asbenindo Lobar tidak hanya mengurus benih padi tapi juga kedelai dan tanaman holtikultura. Holtikultura diantaranya nangka prabu, durian dengan 5 varietasnya yaitu Cipayik, tong mendaya, si gundul, si paken dan gule gaet. Holtikultura lainnya yang menjadi andalan Lobar yaitu manggis di Lingsar dan Batu Kumbung. Tanaman di air yaitu kangkung nona dan aini, pisang ketip, rambutan Narmada juga menjadi objek yang ditangani Asbenindo.

Jadi Ketua Pengurus Koperasi ASBENINDO NTB

Tidak puas dengan perjuangan membawa daerah NTB menjadi lumbung benih, Sapri Mardi terus melakukan koordinasi dan komunikasi bersama kelompok-kelompok penangkar serta para petani di NTB untuk membawa hasil produksi benih yang sudah dikenal berkualitas di luar daerah. Bahkan pemerintah provinsi melalui Dinas Pertanian TPH dan Dinas Koperasi UMKM NTB memberikan dukungan penuh dengan melantik pembentukan pengurus Koperasi Asbenindo NTB yand diketuai oleh Sapri Mardi, bertempat di aula BPSB NTB di Narmada, Lombok Barat, pada Jumat (21/3).

Sinergisitas dua institusi provinsi bersama Asbenindo NTB ini, terutama untuk dapat meraih target program pemerintah, NTB tidak hanya dikenal sebagai lumbung padi namun juga dikenal sebagai lumbug benih, dengan peran sukses yang ditunjukkan Koperasi Asbenindo NTB yang dipimpin Sapri Mardi.

“Kita bersyukur dengan keberadaan Koperasi Asbenindo NTB, solusi permodalan para anggota yang terdiri dari penangkar benih yang ada di NTB bisa terpecahkan. Sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat terutama petani”, kata Kadis Pertanian TPH NTB, Ir Husni Fahri.

Keberadaan Koperasi Asbenindo NTB juga diidolakan Kadiskop UMKM NTB, Drs H Supran MM. Ia mengatakan, pihaknya akan mendukung apa yang menjadi kebutuhan koperasi Asbenindo, karena sangat berperan bagi anggota penangkar benih di NTB. “Kita dukung, satu tahun kedepan selain menjadi koperasi idola masyarakat di daerah ini, juga bisa dikenal masyarakat luar daerah sebagai koperasi sukses dibidang perbenihan di NTB”, harapnya.

Ide Segitiga Emas Perbenihan Indonesia

Ingin menunjukkan prestasi di tingkat nasional bahkan internasional, dengan berbagai terobosan Sapri Mardi menyebut kesuksesan perbenihan yang diraih selama ini karena posisi wilayah NTB terletak di bagian tengah Indonesia sehingga disebutnya “Segitiga Emas Perbenihan Indonesia”. Ide ini diamini bahkan disambut sebagai ide brilian pihak pemerintah daerah.

Disebutnya Segitiga Emas Perbenihan Indonesia, karena letak geografis NTB berada di bagian tengah Indonesia, sehingga suplay benih dari NTB ke wilayah barat (Bali, Jawa dan Sumatra), bahkan ke wilayah utara (Kalimantan dan Sulawesi) serta ke wilayah timur (NTT dan Irian Jaya) sangat mudah dan cepat.

Karena itu, Sapri Mardi yakin perbenihan NTB akan mewujudkan NTB bukan hanya sebagai lumbung padi, tetapi juga sebagai lumbung benih. Dengan harapan sinergisitas terutama penangkar benih tetap terjaga dengan didukung baik oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

[gus]

Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !