KLU – Konsentrasi pengembangan pertanian masih banyak di tahap budidaya, bagaimana cara tanam dan memelihara sampai kelihatan menguning, namun belum bisa membawa pulang hasilnya dengan baik. Sehingga kehilangan hasil akibat penanganan pasca panen yang kurang tepat, masih cukup tinggi terjadi untuk tanaman jagung.

Berdasarkan hasil survei dibeberapa tempat di Indoensia untuk hasil panen jagung, petani kehilangan hasil sekitar 5 sampai 7 persen. Ini terungkap dalam sambutan Direktur Pasca Panen, Ir Pending Dadih Permana M Ec Dev mewakili Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, ketika menghadiri acara Gerakan Penanganan Pasca Panen Jagung di desa Mumbulsari Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Rabu (16/4).    

Dikatakan Direktur Pasca Panen, penanganan untuk pasca panen yang tidak diperhatikan dengan baik akan mengakibatkan menurunnya mutu hasil jagung. Ia mencontohkan, dengan menggunakan alat mesin produksi masih banyak yang tercecer, “jika dihitung secara nasional kekurangan itu cukup besar”, ujarnya.
 
Produksi jagung nasional, lanjut Dia, mencapai 18 juta ton di tahun 2013, sementara untuk daerah NTB mengalamai penurunan. Produksi jagung NTB tahun 2013 mencapai 633 ribu ton, dibanding pada tahun 2012 angka tetapnya mencapai 642 ribu ton.

Kondisi ini, kata Dia, menjadi tantangan impor jagung. “Permintaan pada tahun 2014 ini saja dari gabungan usaha pakan ternak sebesar 3,6 juta ton. Namun kalu produksi di seluruh sentra produksi di daerah dimaksimalkan tentu impor itu bisa ditekan secara berangsur-angsur”, ungkapnya.

“Selain masalah kehilangan hasil, penurun mutu yang paling banyak sekali menjadi kendala untuk memasarkan produk jagung kita”, katanya.

Dijelaskan Ir Pending Dadih Permana , jika musim seperti ini (kemarau), produksi panen jagung memiliki kadar air sekitar 20-22 persen,  bahkan bisa turun sekitar 17-18 persen, jika posisinya sudah dibuka kemudian didiamkan selama 2-3 hari. Kadar air inilah, menurutnya, yang menjadi perhatian, selain itu kecepatan pada saat panen sangat menentukan.

“Untuk itu teknologi pasca panen menjadi penting untuk menyempurnakan upaya di budidaya, sehingga kita mendapatkan nilai tambah dengan produk jagung yang bermutu yang kita hasilkan”, katanya.

[Gus]