LOBAR, MATARAMNEWS.co.id — Terlibat membantu program pemerintah mensukseskan ketahanan pangan di NTB, TNI fokus bahkan gencar melakukan koordinasi dengan berbagai pihak.

Seperti rapat koordinasi upaya khusus (upsus) peningkatan produksi padi, jagung dan kedelai provinsi NTB, yang digelar Bakorluh, di Balai Pelatihan Pertanian, Narmada, Lombok Barat, Rabu (20/5/2015).

Danrem 162 Wira Bhakti, Kolonel CZI Lalu Rudy Irham Srigede, dalam rapat koordinasi itu menegaskan, bahwa akan fokus membantu mendampingi petani dalam menjaga ketahanan pangan di NTB. Bahkan disetiap kesempatan dalam kunjungannya ke ponpes-ponpes mengingatkan kepada para petani TNI siap membantu petani.

“Tiga tahun, NTB harus sudah swasembada pangan”, katanya dengan tegas dihadapan ratusan peserta pelatihan baik dari kalangan penyuluh pertanian pemerintah maupun swadaya se-NTB. Bahkan para anggota Babinsa yang terlibat langsung membantu mendampingi petani di lapangan.

Menurut Lalu Rudy, petani akan diberikan bantuan oleh pemerintah asalkan masuk dalam kelompok tani. “Ada bantuan untuk petani sebesar Rp 1 juta per 1 hektare lahan”, katanya.

Bahkan, katanya memotivasi, Kementerian Pertanian akan memberikan reword bagi 10 kabupaten yang sukses melaksanakan swasembada pangan. “Kepala Dinas Pertaniannya¬† akan diajak ke luar negeri untuk kunjungan kerja ke negara-negara penghasil pangan”, katanya.

Danrem mengingatkan, rapat koordinasi upaya khusus (upsus) itu, artinya tidak biasanya. Namanya saja upaya khusus, apapun untuk kebaikan harus dilakukan. Kapanpun dibutuhkan, imbuh dia, TNI selalu siap demi kebaikan. “Bilaperlu tidak diberikan honor pun akan dilaksanakan”, tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Danrem menekankan Bulog NTB harus menjadi perhatian. Sebab, Gudang Bulog NTB hanya mampu menampung 9 ribu ton, dan hanya mampu membeli hasil produksi petani sebesar 10 persen. “Sisanya mau dikemanain. Itu jadi kendala petani sehingga menjual hasil produksinya dibawah harga pasar. Akibatnya petani menjadi malas”, katanya.

“Saya masih mencurigai Bulog NTB membeli hasil produksi dari Bali. Ini bahaya dan merusak pasar”, ungkapnya. Kendati kecurigaanya itu masih dalam pengawasannya, sebab Bulog membeli produk hasil pangan menggunakan pihak lain (rekanan) petani, dan dia mengaku tidak bisa menangkap petani. Namun jika ditemukan ada orang Bulog NTB sendiri yang menjadi pelakunya, dengan tegas Danrem mengatakan akan menangkapnya.

Selain itu, Danrem mengaku selama menjabat telah banyak menangkap para mafia pupuk di NTB. Kata dia, ada 17 kali menagkap mafia pupuk, diantaranya di Lombok Tengah dan di Lombok Timur.

“Indikasi Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) terlibat. Polisi dilibatkan dalam ketahanan pangan ini, dan apapaun hasilnya tetap saya tangkap terutama masalah pupuk dan bulog”, katanya.

Lalu Rudy berharap terutama bagi petugas statistik (BPS,red) dalam melaporkan data statistik koreksi target lahan pertanian di NTB harus dikoordinasikan dulu. “Jangan melaporkan data yang di copy paste, asal bapak senang”, katanya.

Laporan : Abd Muin
Editor : Guswan Putra