Ewindo Perkenalkan Bawang Merah SANREN F1

SANREN F1, Varietas baru yang mampu berproduksi hingga 28 ton per hektare di musim kering dan musim hujan

LOMBOK – Salah satu produsen benih sayuran hibrida tropis ‘Cap Panah Merah’ PT East West Seed Indonesia (Ewindo) mengenalkan benih bawang merah varietas SANREN F1 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, di acara “Festival Bawang Merah 2016”.

Acara tersebut ditandai dengan panen raya bawang merah varietas SANREN F1 yang dihadiri oleh Dinas Pertanian Lombok Timur, Direktur Ewindo Afrizal Gindow, dan ratusan petani hortikultura dari Nusa Tenggara Barat. Ini merupakan rangkaian Festival Bawang Merah 2016 yang sebelumnya telah digelar di beberapa area di Indonesia.

“Bawang merah varietas baru ini adalah hasil penemuan dari breeder atau peneliti Ewindo di Indonesia. Bawang merah Sanren F1 ini diyakini merupakan yang pertama di dunia yang memiliki keunggulan mampu berproduksi dengan baik ketika ditanam pada musim kering maupun hujan,” tutur Direktur Sales dan Marketing Ewindo, Afrizal Gindow, Kamis (17/11/2016).

Penemuan varietas ini merupakan solusi terhadap persoalan yang dihadapi petani bawang merah di Indonesia. Seperti diketahui, bibit bawang merah yang ada selama ini sulit untuk dibudidayakan pada musim hujan dengan curah hujan tinggi. Umumnya pada musim tersebut tanaman bawang akan mudah busuk dan rusak akibat serangan penyakit.

Salah satu penyakit yang seringkali menyerang tanaman bawang merah pada musim penghujan adalah busuk daun. Serangan penyakit ini dapat menyebar dengan cepat dan menyebabkan kerusakan 50 persen tenaman dan bahkan dapat mencapai seratus persen. Potensi gagal panen dan kerugian yang dihadapi petani pun menjadi sangat tinggi.

Selain tahan terhadap penyakit, bawang merah SANREN F1 juga memiliki bentuk, warna dan aroma yang sesuai dengan selera pasar dan konsumen. Selain itu untuk area tanam seluas satu hektar, benih (biji) yang dibutuhkan hanya sekitar 3 kilogram.

Sementara, hasil produksinya dapat mencapai 28 ton per hektare, lebih tinggi dibanding rata-rata hasil panen bawang merah nasional sekitar 8-12 ton per hektare. SANREN F1 juga dapat beradaptasi dengan baik ketika ditanam di dataran rendah dengan ketinggian 50 – 100 mdpl.

Karena berasal dari biji, biaya budidaya bawang merah SANREN F1 juga lebih rendah. Jika menggunakan sistem konvensional setiap hektar lahan memerlukan sekitar 1,5 ton umbi dengan biaya di kisaran Rp 45 juta, sedangkan jika menggunakan metode ‘pindah tanam’ hanya memerlukan 5 kg benih dengan biaya sekitar Rp 12,5 juta.

Selain itu, cara baru budidaya bawang merah dengan menggunakan biji memiliki keunggulan yakni lebih sedikit terserang penyakit karena benih tidak membawa bulb borne disease seperti virus dan jamur. Pemakaian pupuk pun lebih efisien. Hanya dengan menggunakan dosis pupuk setengah dari kebutuhan pupuk dengan metode penanaman konvensional, produksi bawang merah tetap tinggi.

“Penemuan varietas baru ini merupakan sumbangsih kami dalam memacu pertumbuhan dan kemajuan bidang agro industri khususnya budidaya hortikultura di Indonesia. Kami berharap dengan pengenalan cara budidaya ini mampu mendorong peningkatan kesejahteraan petani bawang merah,” tutup Afrizal.

(joko/gsw)