LOMBOK TIMUR – Menjelang aksi demo 2 Desember 2016 oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI, seluruh jajaran polisi bersama TNI di seluruh Indonesia mulai bersiap, tak terkecuali di wilayah Lombok Timur.

Apel gelar pasukan bertempat di Mapolres Lombok Timur dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi aksi unjuk rasa mendatang.

Kapolres Lombok Timur AKBP Wingky Adityo Kusumo SIK MH, selaku inspektur upacara menegaskan, apel gelar pasukan merupakan bentuk tahapan utama yang harus dilakukan untuk mengecek kelengkapan sarana dan prasarana yang digunakan sudah mencapai hasil sempurna, dan sebagai bentuk kesiapan menghadapi kontijensi serta menciptakan dan memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Dalam apel gelar pasukan tersebut juga diikuti oleh jajaran TNI, BRIMOB serta dari unsur Pol PP Lombok Timur. Kapolres Lotim juga menegaskan, apel gelar pasukan juga bertujuan untuk mengevaluasi terjadinya gangguan kamtibmas tahun 2016 serta agenda nasional tahun 2017 mendatang.

Selain itu, papar Kapolres Lotim, ada beberapa beberapa jenis gangguan kamtibmas yang diprediksi masih mewarnai di tahun 2016 ini, diantaranya, kejahatan konvensional seperti, curat, curas, curanmor, penyalahgunaan senpi/handak serta premanisme.

Selain itu tambahnya, kejahatan yang dapat merugikan kekayaan negara semisal, korupsi, ilegal fishing, ilegal logging, ilegal mining dan tindak pidana lingkungan hidup. Kejahatan lainnya, seperti kejahatan trans nasional berupa terorisme, narkoba, traficking inperson, people smuggling dan kejahatan dibidang ekonomi lainnya. Termasuk, konflik sosial seperti aksi separatisme, unjuk rasa anarkis, bencana alam maupun non alam dan gangguan kamtibmas lainnya.

Terkait dengan beberapa agenda pilkada serentak 15 Februari 2017 mendatang, walaupun di NTB tidak menggelar hajatan tersebut, namun suasana politik sudah mulai meningkat dan berdampak hingga ke wilayah NTB. Untuk itu, Kapolres Lotim mengimbau kepada seluruh masyarakat terutama yang memanfaatkan media sosial, agar tidak cepat percaya dengan informasi yang menyesatkan, apalagi sampai terprovokasi.

(edi/red)