Menu
RSS

Ibu Djumini Gadaikan Cincin, Usai Umroh Sakit Jantungnya Tak Kambuh Lagi

Ibu Djumini (kiri) bersama Ibu Elidawati, tetangganya yang sekaligus yang mengajaknya beribadah umroh pada akhir Maret lalu. (foto: ist.) Ibu Djumini (kiri) bersama Ibu Elidawati, tetangganya yang sekaligus yang mengajaknya beribadah umroh pada akhir Maret lalu. (foto: ist.)

SEMARANG – Beribadah umroh tak harus menunggu uang terkumpul dahulu. Yang paling dibutuhkan adalah niat atau kemauan, keberanian mengambil keputusan dan terus berdoa kepada Allah. Yakinlah bahwa Allah akan memudahkan jalannya.

Ibu Djumini adalah salah satu muslimah yang bermodal nekat dan yakin akan pertolongan Allah dalam menjalankan ibadah umrohnya. Pasalnya, saat muncul kemauan untuk berumroh, wanita yang tinggal di Jalan Sriwibowo Purwoyoso Ngaliyan Semarang ini belum memiliki ongkos. Namun wanita yang punya kesibukan menjahit di rumah ini akhirnya bisa berumroh bersama PT Masy’aril Haram Tours & Travel (Mastour) dalam umroh Milad ke 15 Mastour dengan jemaah 1.530 orang yang berangkat pada 21 Maret hingga April 2017 lalu. Keajaiban lainnya, Ibu Djumini yang dalam setahun terakhir memiliki penyakit jantung dan setiap bulan harus kontrol dokter dan minum obat rutin setiap hari, sejak berada di tanah suci kemarin sampai sekarang sakit jantungnya sudah hilang dan sudah tidak lagi minum obat.

“Alhamdulillah. Subhanallah. Masih terasa mimpi, saya bisa beribadah di tanah suci ini,” kata Djumini.

Kenekatan Ibu Djumini bermula pada bulan Juli 2016 lalu. Ketika sedang berada di masjid dekat rumahnya, ngobrol dengan Ibu Elidawati, tetangganya, yang mengajaknya untuk ibadah umroh.

“Saat diajak ya saya kaget, ya bingung. Karena tidak punya uang. Tapi, sebagai orang Islam memang sudah lama ingin bisa beribadah di tanah suci,” katanya.

Ibu Elidawati tak langsung berhenti untuk mengajak Djumini umroh dengan alasan tidak punya uang. Namun perempuan yang akrab disama Bu Elin ini berusaha menyarankan agar menggadaikan dua cincin emasnya untuk uang muka umroh. Untuk meyakinkannya, Bu Elin mengatakan kalau umrohnya nanti akan bersamanya.

“Bu Elin bilang, yakin saja pasti Allah akan kasih jalan nanti untuk pelunasannya. Mendapat saran demikian, saya nekat gadaikan cincin dan dapat uang Rp 3 juta. Uangnyapun langsung saya titipkan ke Bu Elin agar didaftarkan ke Mastour. Saya juga belum bilang suami saat itu,” katanya.

Selanjutnya, tibalah untuk mencari paspor. Karena belum memiliki uang, akhirnya dibantu oleh Bu Elin. Waktu terus berjalan. Sungguh luar biasa. Allah benar-benar menolong hambanya yang yakin tawakal. Sejak daftar umroh itu, orderan Ibu Djumini sebagai tukang jahit tambah ramai. Al hasilnya, penghasilanya bertambah banyak, dimana banyaknya penghasilnnya belum pernah dadapat sebelumnya. Rejeki datang dari mana-mana yah tak tahu arah datangnya.

“Rezeki mengalir. Begitu dapat uang, uangnya langsung saya titipkan ke Bu Elin. Pembayaran ke Mastour saya pasrahkan Bu Elin,” katanya.

Setelah empat bulan dari pendaftaran, yaitu bulan November, rencana umrohnya diketahui suaminya. Awalnya suaminya penasaran karena istrinya sering bolak balik ke rumahnya Bu Elin, padahal sebelumnya jarang sekali.

“Suami saya awalnya juga tak percaya kalau saya akan umroh. Namun setelah saya jelaskan akhirnya dia tahu. Saat itu juga saya langsung minta izin ke suami kalau akan umrah,” katanya.

Akhirnya, wanita kelahiran Semarang, 17 Mei 1967 ini bisa juga melunasi ongkos umroh dua minggu sebelum berangkat, atau awal Maret. Seminggu sebelum berangkat Bu Djumini masih bingung karena tidak punya uang saku. Lagi-lagi, keajaiban kembali dialami perempuan aktif pengajian di kampungnya itu. “Semingu sebelum berangkat, rezeki datang banyak sekali. Tetangga, teman pengajian pada datang ke rumah saya untuk memberi sangu saya. Padahal saya juga tidak pernah meminta kepada mereka. Alhamdulillah jumlahnya cukup untuk sangu. Seminggu sebelum berangkat saya sulit tidur karena masih belum percaya kalau akan berangkat umroh,” kenangnya.

Ibu Elin Elidawat mengatakan, Ibu Djumini benar-benar mendapatkan pertolongan dari Allah. Setahun terakhir dia menderita sakit jantung. Dia harus kontrol ke dokter tiap bulan dan minum obat. Saat umroh kemarin juga membawa obat satu plastik. “Tapi saat disana (Madinah dan Mekah), saya menyarankan agar nggak usah minum obat itu, namun perbanyak minum air zam-zam. Hal itu dilakukan. Dan ternyata, sejak itu, dia sudah tidak merasakan sakit. Sampai sekarang sudah di rumah juga sudah tidak minum obat,” katanya.

Hal lain, kata Bu Elin, dua cincin emas yang sudah digadaikan untuk uang muka juga sudah diganti Allah. “Bu Djumini sudah beli perhiasan dua cincin di tanah suci kemarin. Jadi sudah diganti langsung oleh Allah. Alhamdulillah,” katanya.

(jatengpos/red)

^ KEMBALI KE ATAS