Menu
Jumat, 24 November 2017 | 9:02:42 am

Waspadai Jebakan Politik 'Kuda Troya' dalam Pilkada NTB

Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto SH dan Sekretaris M16 Lalu Athari Fadlulah SE Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto SH dan Sekretaris M16 Lalu Athari Fadlulah SE

MATARAM - Jebakan politik kuda troya dalam kontestasi pilkada di NTB perlu diantisipasi oleh semua paslon. Motivasi utama strategi ini untuk memberikan kesan seolah olah paslon tersebut memiliki dukungan kuat, realitasnya sebatas massa mengambang.

Untuk memperkuat siasat ini, paslon diterlenakan lewat pencitraan yang dikemas sedemikian rupa agar nampak kredibel dan terpercaya, meskipun tanpa parameter yang jelas.

Demikianlah dikatakan Direktur M16, Bambang Mei Finarwanto SH dan Sekretaris M16 Lalu Athari Fadlulah SE, dalam siaran pers mingguan M16, pada Minggu (5/11/2017).


M16 melihat bahwa kecenderungan melakukan taktik melepas kuda troya ini dimaksudkan agar paslon yang bertarung dalam pilkada di NTB tidak fokus melakukan penetrasi di basis basis pemenangannya karena sudah ada garansi secara sepihak dari tim sukses ataupun afiliasi politiknya.

"Ini jebakan yang secara sistematis menguntungkan paslon lain untuk makin intensif menguasai kantong kantong pemilih yang potensial," ujar Direktur M16 yang akrab disapa Didu.

Lebih jauh Didu menambahkan secara psikologis paslon akan mudah terlena dan menyakini hal tersebut, apalagi yang menyampaikan hal tersebut adalah orang kepercayaannya. Padahal lingkaran terdekatnya itulah yang kerap menjadikan blunder pada paslon itu. Apalagi jika proses rekruitmen tim inti tidak didasari oleh rekam jejak yang detail menyangkut kondite dan background politiknya. "Rata rata kemistri tim sukses dan paslon terjalin saat kepentingan momentum pilkada," lanjut Didu .

Politik kuda troya ini, kata Didu harus dimaknai sebagai kreasi politik yang memerlukan kerjasama dengan banyak pihak terkait yang tujuan akhirnya melemahkan kekuatan paslon tersebut dari dalam tim itu sendiri.

"Ciri ciri yang paling nampak adalah senantiasa memberikan pujian pujian dan garansi dukungan di banyak kantong suara yang seolah olah sudah di penetrasi. Padahal itu hanya klaim sepihak," sambung Didu, mantan eksekutif daerah Walhi NTB ini.

Didu menambahkan bahwa paslon paslon yang dianggap kuat dukungannya oleh publik sangat rentan di infiltrasi oleh pemain politik yang sebenarnya membawa misi dan kepentingan politik calon lain. "Tapi juga tidak boleh phobia terhadap para pendukung yang berperilaku aneh, cukup dikenalkan dan dimengerti maksudnya," tambahnya.

Sementara Sekretaris M16, Lalu Athari Fadlulah mengatakan mewaspadai menyusupnya kepentingan lain pada calon-calon Gubernur maupun Bupati yang akan bertarung 2018 mendatang, maka ada baiknya calon calon sedini mungkin menyaring informasi maupun strategi untuk tidak di konsumsi secara publik dan hanya utuk intern Tim Tim inti saja. "Selain itu penting adanya tim yang solid dan memiliki komitmen tinggi terhadap pasangan calon, sehingga tidak mudah terkecoh oleh para pemain politik musiman," imbuhnya.

Lebih jauh Athar menggarisbawahi, oleh sebab itu bagi para kandidat bakal calon kepala daerah yang sudah final baik secara dukungan partai atau pasangan wakil ada baiknya untuk menjaring timses yang segaris dengab visi misi bakal calon dan mengevaluasi sistim kerja Timsukses. "Sehingga tidak mudah terdeteksi oleh calon-calon lain, atau adanya kemungkinan penyusup yang sengaja di pasang oleh pesangan calon lain," pungkasnya.

(mn-09/r3)

^ KEMBALI KE ATAS

Topik