Menu
Jumat, 24 November 2017 | 9:10:07 am

Pasang Surut Faham Kebangsaan

Pasang Surut Faham Kebangsaan

MANADO - Paham kebangsaan merupakan keterkaitan hubungan antara faham agama dan kebangsaan di sebuah negara. Faham ini akan mengalami pasang dan surut tergantung bagaimana rakyat atau umat di negara itu bisa menjaganya dengan baik.

"Jika kita sebagai rakyat bisa menjaga dengan baik, maka ia akan mengalami masa pasang. Sebaliknya, jika rakyat Indonesia tidak menjaganya dengan baik, maka faham agama dan kebangsaan yang kita miliki akan tergerogoti oleh paham dan ideologi lain yang akhir-akhir ini sedang berkeliaran di negara kita," tegas Ketua PBNU, Robikin Emhas, dalam rilis yang diterima mataramnews, Sabtu (11/11/2017).


Makna penting dari Munas Alim Ulama dan Konbes NU yang akan berlangsung di Mataram NTB pada 23-25 November mendatang, di antara rangkaian kegiatan Munas Alim Ulama dan Konbes NU adalah Pra Munas dan Konbes yang berlangsung di Manado Sabtu (11/11/2017), yang mengangkat sub tema NU dan Kebhinekaan. Hal ini penting dalam rangka menjaga dan merawat paham agama dan kebangsaan itu.

Robikin Emhas yang juga sebagai penanggung jawab pelaksanaan Pra Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Menado mengajak agar kita sebagai stakeholder bangsa dan negara, khususnya warga NU di Sulawesi Utara, lewat kegiatan Pra Munas Alim Ulama dan Konbes NU ini untuk senantiasa merawat dan mengembangkan Islam moderat, (Islam Nusantara) dalam negara bangsa, NKRI yang kita cintai ini.

"Jangan diganggu oleh faham-fahan radikal, baik dari ideologi berhaluan kiri atau pun kanan," tegasnya.

Sebab, tambahnya lagi, faham agama dan kebangsaan bukan lah faham yang sekali jadi. Ia butuh dirawat dan dipelihara. "Harus kita pelihara terus-menerus. Ini bukanlah faham yang sifatnya taken for granted," pungkas Ribikin dalam Pra Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Zona Indonesia Timur yang berlangsung di Hotel Aryaduta Manado.

Menurut Amin Lasena, Ketua Panitia Daerah Pra Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Manado ini diharapkan makin mempererat persaudaraan kita sebagai bangsa. Sebab, tambah Lasena, persaudaraan itu bukan cuma saudara segama atau seiman. Tetapi juga persaudaraan yang sifatnya lintas iman.

"Itulah yang di NU dikenal dengan ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah insaniyah," pungkasnya.

(mn-05/mn-09/r3)

^ KEMBALI KE ATAS

Topik