Menu
RSS

SHS Harus Minta Maaf Kepada Masyarakat Luas

SHS Harus Minta Maaf Kepada Masyarakat Luas

Nampaknya, tidak lama lagi bangsa Indonesia akan meninggalkan budaya yang selama ini dikenal negara lain. Yaitu, nilai budaya dan karakteristik masyarakat Indonesia yang sangat menjunjung tinggi persaudaraan, saling menghormati, menjaga kesopanan dan menghargai orang lainnya yang sangatlah kental.

Rasa hormat terhadap orang yang lebih tua secara terang-terangan, sering kali tidak ditunjukan. Padahal, sopan santun atau juga dikenal sebagai tata krama, merupakan salah satu ciri khas dari masyarakat Indonesia.

Pada dasarnya kita harus sopan dimana saja, kapan saja dan dalam kondisi apapun. Apalagi sejak dahulu, bangsa Indonesia dikenal dengan keramahannya, kesopanannya, serta adat istiadat yang dijunjung tinggi. Itulah yang kemudian dikenal dunia hingga saat ini.

Generasi muda yang diharapkan menjadi benteng atas kukuhnya budaya Indonesia. Ternyata banyak mempertontonkan perilaku yang cenderung tidak sesuai dengan nilai budaya dan karakteristik bangsa tersebut.

Salah satu contoh teranyar, dilakukan Steven Hadisurya Sulistyo (SHS), 25 tahun, terhadap TGH Muhammad Zainul Majdi dan Istrinya, Erica Zainul Majdi di depan counter Batik Air, Bandara Changi, Singapura. Di mana berdasarkan surat pernyataan permohonan maaf yang beredar di media sosial, SHS mengaku telah menyebut kata yang tidak pantas yaitu : “Dasar Indo, Dasar Indonesia, Dasar Pribumi, Tiko!”.

Hal itu sangat ironis. Mengingat TGH Muhammad Zainul Majdi dan istri telah menjelaskan persoalan yang sebenarnya. Yakni, sejenak meninggalkan antrean untuk bertanya kepada petugas (https://news.detik.com/berita/d-3474497/kisah-gubernur-ntb-maafkan-pria-yang-mencaci-makinya-di-bandara). Bahkan, pindah antrian , tetapi SHS tetap saja mengeluarkan berbagai kata tidak pantas kepada TGH Muhammad Zainul Madji.

Kendati telah menandatangani pernyataan permintaan maaf di atas materai. Kami berpendapat aparat hukum harus memberikan rasa aman kepada semua masyarakat. Termasuk kepada TGH yang kebetulan pada saat ini menjabat sebagai Gubernur NTB.

Diantaranya dengan menyidik kasus penghinaan SHS terhadap TGH. Hal itu sesuai KUHP pasal 315. Dimana setelah setelah diundangkannya UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan diskriminasi Ras dan Etnis, maka penghinaan etnis bukan delik aduan. (http://berita.suaramerdeka.com/polisi-harus-usut-penghina-gubernur-ntb/)

Gubernur NTB memang telah memaafkan pelaku dan pelaku telah meminta maaf. Tetapi tindakan SHS yang menghina dengan TGH dengan kata-kata tidak pantas , tidak hanya menyinggung TGH. Tetapi semua warga negara yang merasa memiliki identitas yang sama. Oleh karenanya agar tidak berdampak luas, pihak kepolisian harus berperan aktif. Sekaligus memberikan efek jera agar tidak terulang di masa mendatang.

Kami juga berpandangan, SHS harussecara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada semua masyarakat Indonesia atas pernyataannya tersebut. Hal ini untuk menjaga tetap kondusifnya kehidupan sosial kemasyarakatan bangsa indonesia. Khususnya di NTB.

Sebagai bahan refrensi. Berikut kami sampaikan link pengertian kata “Tiko”

https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20100703003122AAdH649

 


(IKA Unram Jabodetabek)

^ KEMBALI KE ATAS

Top 10 News