Menu
Rabu, 13 Desember 2017 | 11:27:17 am

GEN MNU NTB Deklarsikan Tokoh NU Menjadi Pemimpin Nasional

GEN MNU NTB Deklarsikan Tokoh NU Menjadi Pemimpin Nasional

MATARAM - Generasi Millenial Nahdalatul Ulama (GEN MNU) NTB mendukung serta mendorong agar tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU) menjadi pemimpin di tingkat nasional.

Karena itu dengan melihat era generasi millennial NU saat ini, maka dianggap penting kiranya dalam Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017 di Lombok untuk mendorong dan mengintervensi kepemimpin nasional bagi generasi milenial NU disemua level kepemimpinan.

"Generasi melenial NU berani bersatu untuk mendorong tokoh NU menjadi presiden pada pemilu 2019 serta gubernur, bupati dan walikota pada pilkada serentak 2018," ucap koordimator GEN MNU NTB, Muhammad Akbar Jadi, Jumat (24/11/2017) siang, sesaat setelah menggelar deklarasi.


Menurutnya, representasi NU dalam kepemimpinan nasional merupakan prasyarat yang harus ada, dimana kombinasi kekuatan nasionalis dan agama dalam kepemimpinan nasional merupakan keharusan, bahkan kebutuhan, pemimpim harus kuat namun adil, harus tegas namun terbuka, harus patuh pada hukum namun berpegang besar dari rakyat kepada pemerintah.

Karena itu ungkapnya, generasi millenial NU mengusulkan dan meminta agar dalam formasi kepemimpinan di 2019 ada tokoh NU yang menjadi calon presiden atau calon wakil presiden.

"Mengapa ? karena presiden dan wakil presiden bukan hanya kepala negala dan pemerintah, itu simbol dan wajah terdepan Republik ini," terang Viken Madrid sapaan akrab Muhammad Akbar Jadi, seraya mengungkapka dengan menempatkan tokoh NU sebagai pemimpin nasional berarti menggenapkan keterwakilan atas tiga hal, keterwakilan dari segi jumlah, kelompok dan karekter.

Maka lewat Munas Alim Ulama dan Konbes NU yang saat ini sedang digelar di NTB dan berkumpulnya para kiai dan ulama agar apa yang diinginkan oleh Generasi Milinnial bisa dipertimbangkan dengan sungguh-sungguh.

"Merekomendasikan tokoh NU menjadi calon pemimpin 2019 bukanlah hal yang berlebihan, bukan juga berarti NU terlibat dalam politik praktis, NU bukan partai, NU penyambung lidah puluhan juta umat yang mayoritas masih miskin, maka sangat wajar jika NU ingin memastikan bahwa kepemimpinan mendatang bisa dinikmati sebesar besarnya untuk kesejahterskan umat dan bangsa," tegasnya.

(mn-07/r3)

^ KEMBALI KE ATAS