Menu
Selasa, 24 April 2018 | 8:52:09 pm

Wartawan Minta Kepala Kemenag Loteng Dicopot dari Jabatannya

Wartawan Minta Kepala Kemenag Loteng Dicopot dari Jabatannya

LOTENG - Puluhan wartawan dari berbagai media massa mendatangi Kantor Kemenag Lombok Tengah (Loteng), pada Senin (16/4/2018). Mereka meminta Kepala Kementerian Agama (Kemenag) klarifikasi soal kejadian pengusiran awak media yang sedang menjalankan tugas peliputan.

Pengusiran salah satu wartawan dari salah satu media cetak itu terjadi dalam acara Sosialisasi Produk Hukum yang dilakukan Kejaksaan dan Kemenag Loteng, pada Kamis (12/4/2018) lalu, di MTs Negeri 1 Lombok Tengah.

Informasinya, ketika awak media masuk ke tempat acara, wartawan bernama Muh Hafizudin diusir oleh Kepala Kemenag Loteng menggunakan pengeras suara sambil menunjuk nunjuk wartawan tersebut.

Tindakan kurang bersahabat itu kemudian memicu kemarahan wartawan lainnya. Saat mendatangi Kantor Kemenag, wartawan hanya ditemui Kasubag Tata Usaha L Asy’ari. Berhubung Kepala Kemenag Lombok Tengah sedang berada di luar negeri.

Perwakilan wartawan dari Forum Wartawan Lombok Tengah (FWLT), Agus Wahaji mengaku sangat menyayangkan insiden tersebut. Menurutnya, tindakan Kepala Kemenag Loteng sama dengan menghalangi tugas jurnalistik. Sesuai Undang Undang Pers, yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi kurungan 5 tahun atau denda Rp 500 juta.

Dengan keterbukaan informasi saat ini, Kepala Kemenag sebagai seorang pejabat publik seharusnya memberikan akses kepada awak media untuk meliput berbagai kegiatan di instansinya. Terlebih sosialisasi produk hukum yang digelar tersebut merupakan kegiatan terbuka untuk wartawan.

Apalagi tuan rumah kegiatan adalah Kementerian Agama yang seharusnya mengedepankan etika dan sopan santun.

“Kalau memang tidak mau diliput tinggal panggil satpam dan minta keluar dengan baik-baik. Bukan malah mengusir dengan gaya preman seperti ini,” keluhnya.

Ia berharap persoalan ini segera disikapi. Jangan sampai kejadian ini merusak hubungan Kemenag dengan wartawan yang selama ini sudah terjalin dengan sangat baik. Sehingga pihaknya mendesak Kakanmenag minta maaf secara terbuka kepada seluruh wartawan. Jika tidak, pihaknya mengancam akan membawa persoalan ini ke ranah hukum.

Pihaknya juga akan menggelar aksi besar besaran bersama seluruh wartawan di NTB. “Kalau tidak mau minta maaf, kami minta Kanwil Kemenag NTB segera mencopot Kakanmenag Lombok Tengah,” tegas Agus.

Sebelumnya, pengusiran atau penghalangan tugas jurnalistik juga sempat dialami wartawan Radar Mandalika lainnya, M Iqbal Hidayat. Dijelaskan, saat itu Iqbal ingin melakukan konfirmasi terkait pemberitaan kepada Kakanmenag. Namun bukan jawaban yang didapat, melainkan pengusiran.

“Sekalipun media tidak meliput, Kemenang tetap akan menjadi Kemenag. Bahkan dihadapan saya, dia juga bilang percuma kita baca koran, hanya mengahbiskan anggaran saja. Nanti madrasah juga akan saya suruh berhenti berlangganan,” cerita Iqbal.

Menanggapi hal tersebut, Kasubag Tata Usaha, Kemenag Lombok Tengah, L Asy’ari membenarkan insiden tersebut. Hanya saja pihaknya yakin hal itu karena kekhilafan Kakanmenag yang saat itu sedang kesal dengan kinerja beberapa kepala sekolah. Akhirnya, wartawan yang sebenarnya tidak tau duduk persoalan menjadi korban pelampiasan amarahnya.

Ia berjanji akan menyampaikan tuntutan para wartawan kepada yang bersangkutan sepulang dari tanah suci. Ia juga akan mengupayakan kedua belah pihak dapat bertemu dan mendiskusikan persoalan ini dengan cara kekeluargaan. Terlepas dari semua itu, pihaknya berharap agar persoalan ini tidak berlanjut.

“Wartawan adalah mitra kita. Jadi kami mohon maaf jika ada kesalahan,” tuturnya.

(mn-08)

^ KEMBALI KE ATAS

Top News