Menu
Rabu, 20 Juni 2018 | 1:55:51 am

Ratusan Santri Ponpes Al Husainy Kota Bima, Tolak Radikalisme dan Terorisme

Ratusan Santri Ponpes Al Husainy Kota Bima, Tolak Radikalisme dan Terorisme

KOTA BIMA - Satu persatu ponpes di NTB mengecam keras aksi kekerasan terorisme dan radikalisme.  Beberapa pondok menentang keras, paham radikalisme dan beberapa aksi terorisme selama ini terjadi di Indonesia.  Salah satunya, Pimpinan  Ponpes Al Husainy  Kota Bima TGH Ramli Ahmad, menolak keras paham radikalisme bersama 800 santrinya. 

"Ratusan santri yang sedang menimba ilmu di pondok pesantren, terus gencar memberikan bimbingan agama kepada kalangan santri," kata TGH Ramli Ahmad menuturkan, pada Jumat (8/6/2018).

Ia menghimbau kalangan santri harus punya misi yang baik dan benar untuk umat dan bangsa ini. Misi itu adalah  Al Quran dan Al Hadist, belajar dan mengajarkan orang. Menjadi santri harus berkhidmat kepada guru dan kyai.

"Paham radikalisme dan terorisme harus disingkirkan. Namun untuk memerangi paham semacam itu, butuh kerja sama semua elemen. Terutama masyarakat  harus membantu untuk mencapai keamanan bersama," harapnya.

Dulunya, kata dia, Penatoi dikenal daerah yang rawan konflik. Sekitar tahun 2007 sampai dengan 2012, masjid masjid ada yang mendatangi untuk mengambil peran, akan tetapi karena kontrol masyarakat yang kuat seperti di Panaraga tetangga Penatoi hal tersebut dapat ditangkal.

‘’Saya masih di pemerintahan dan saya ngomong kepada Walikota Bima agar mengangkat warga asli Panaraga untuk menjadi Lurah sehingga mereka diusir seperti kelompoknya Iskandar (telah diamankan Densus 88 AT Mabes Polri) yang mana masyarakat bingung dengan mereka karena merasa benar sendiri,’’ucapnya. 

Mereka, lanjut TGH Ramli, tidak punya pegangan yang kuat, sedangkan Islam yang benar kita masih ada Ulama, orang tua dan mereka tidak pernah mendatangi orang atau ulama untuk meminta fatwa.

Menurutnya, ponpes merupakan salah satu pendidikan karakter anak selama ini. "Saat ini terdapat fenomena  dimana anak-anak baru masuk, tamat SD saja sudah berani melawan guru dan mereka kalau bosan dengan nasehat kita disoraki atau dicuekin," ungkapnya. 

"Ketika puasa (Bulan Ramadhan) ini para santri banyak yang libur dan tanggal 9 mereka baru mulai masuk kembali. Para santri ada yang tinggal disini sekitar 500 orang dan bertempat tinggal di asrama yang berada dibelakang Ponpes Al Husainy, untuk santri yang tinggal diluar asrama sebagian besar berasal  asli dari Kota Bima," katanya.

(r3)

^ KEMBALI KE ATAS