Menu
Rabu, 17 Januari 2018 | 9:07:18 am

Penetapan Tanggal Bau Nyale Tuai Pro Kontra

Penetapan Tanggal Bau Nyale Tuai Pro Kontra

LOTENG - Pro kontra penetapan tanggal core event Bau Nyale, yang sebelumnya telah diputuskan tanggal 6-7 Maret 2018, menjadi pembicaraan di kalangan budayawan dan para tokoh masyarakat.

"Ini yang menjadi inisiatif kami dari Blok Pujut mengadakan kajian hari ini," kata Rata Wijaya selaku Ketua Blok Pujut, di Loteng, Senin (8/1/2018).

Baca juga : Bau Nyale 2018, Diputuskan Tanggal 7-8 Maret

Dikatakan Wijaya, kajian dari lembaga Blok Pujut terkait penetapan penanggalan core event Bau Nyale dengan tema ''Membedah Penanggalan Khazanah Muzaik Sasak" tanggal core event Bau Nyale yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah.

Masyarakat kata dia, melakukan secara tradisional untuk menentukan waktu pelaksaanaan Bau Nyale. "Ada kajian penanggalan Bau Nyale yang dilakukan oleh Blok Pujut, bukan sebagai tandingan acara yang sudah ditetapkan oleh Pemkab Loteng pada saat Sangkep Warige di desa Kuta," katanya.

Penanggalan sasak, ungkap Wijaya, menggunakan rumus-rumus tertentu. Tidak diramalakan, akan tetapi berdasarkan kitab Tajul Muluk yang dituangkan dalam bentuk Warige. "Penanggalan Rowot bukan ramalan, akan tetapi menghitung perjalanan matahari dan bulan sehingga dibuat kalender Rrowot," ujarnya.

Kajian yang dilakukan Blok Pujut hari ini, Senin (8/1/2018), menurut Wijya, hanya untuk mengembalikan roh dari kegiatan Bau Nyale yang sudah dilaksanakan selama bertahu-tahun oleh masyarakat yakni tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak atau kalender Rowot Sasak, bukan untuk kegiatan tandingan dari Pemkab Loteng.

Kendati Pemkab Lombok Tengah sudah menetapkan tanggal Bau Nyale, akan tetapi masyarakat secara umum akan melaksanakan kegiatan Bau Nyale tanggal 20 bulan 10 tanggal menurut penanggalan Sasak atau tanggal 6 dan 7 Feberuari 2018.

"Jika tanggal pelaksanaan Bau Nyale lewat dari tanggal 20 bulan 10 atau tanggal 6 dan 7 Februari 2018, maka nilai-nilai sejarah Mandalika akan hilang. Hasil kajian ini akan disampaikan ke Pemkab Lombok Tengah," katanya.

Direktur Rowot Sasak, DR L Ari Irawan, menambahkan terbentuknya Rowot Sasak adalah untuk melakukan kajian sejarah Sasak, sehingga masyarakat Sasak mempunyai identitas bukan masyarakat yang tidak memiliki asal usul. 

"Masyarakat Sasak memiliki sistem kepemimpinan yang kuat, mirip dengan sistem hilafah. Contohnya perjalanan Pengulu Alim, sehingga MH Ainun Najib menyebut pulau Lombok sebagai Serambi Madinah," terang Direktur Rowot Sasak. 

Kalender Rowot Sasak, menurutnya, mulai diterbitkan tahun 2015. Sebelum diterbitkan itu sudah dilakukan pengkajian oleh para Kiai. Penanggalan Rowot tidak berdiri sendiri tetapi menghitung empat faktor yaitu matahari, bulan, bintang dan gejala alam (tumbuhnya jamur, naiknya air laut di pantai selatan). 

"Kalender Rowot fokus pada penanggalan 20 bulan 10, bukan mencari Nyale. Tanggal 20 bulan 10 merupakan waktu dimana Putri Nyale membuang dirinya ke laut. Apakah ada atau tidak ada Nyale pada tanggal dan bulan tersebut itu kembali ke alam," jelasnya

Kegiatan tersebut dihadiri diantaranya oleh Ketua Blok Pujut Rata Wijaya, Direktur Rowot Sasak DR L Ari Irawan, Budayawan Sasak Drs HL Agus Gaturahman, serta Kades se kecamatan Pujut dan tokoh masyarakat.

(mn-08/r3)

^ KEMBALI KE ATAS