Menu
Rabu, 17 Januari 2018 | 9:03:03 am

Pilgub NTB Ajang Adu Kuat Politik Parpol dan Independen?

Drektur Mi6 Bambang Mei Finarwanto SH dan Sekretaris Mi6 Lalu Athari Fadlullah SE Drektur Mi6 Bambang Mei Finarwanto SH dan Sekretaris Mi6 Lalu Athari Fadlullah SE

MATARAM - Pemilukada Gubernur dan Wakil Gubernur (Pilgub) NTB 2018 mendatang merupakan ajang adu kuat prestise dan gengsi politik pasangan calon (paslon) yang didukung parpol dan paslon independen. Kehormatan dan nama baik akan dipertaruhkan oleh para paslon dan parpol pendukung untuk memenangi pesta demokrasi ini.

"Munculnya figur independen paslon Ali-Sakti akan menjadi spirit baru kalangan parpol untuk makin memperkuat dan mengamankan pemilih loyalisnya agar taat fatsun dengan afiliasi calon yang didukung partai," kata Drektur Mi6 Bambang Mei Finarwanto SH dan Sekretaris Mi6 Lalu Athari Fadlullah SE melalui siaran persnya, Rabu (3/1/2018).

Mi6 menilai ajang Pilgub NTB harus dimaknai sebagai keinginan politik rakyat untuk memilih dan memenangkan figur Pemimpin Daerah yang pantas. "Jika yang menang Paslon yang didukung partai, maka kerja dan mesin politik parpol berjalan dengan baik dibasis rakyat pemilih," ujar Bambang Mei Finarwanto yang akrab disapa Didu itu.

Sebaliknya, lanjut Didu, jika nanti Paslon independen yang menang, berarti kerja mesin politik parpol ditingkat konstituen tidak optimal. "Ini harus dijadikan evaluasi dan refleksi kalangan pimpinan parpol," ungkapnya.

Sementara itu, berdasarkan bocoran info dari lembaga survey, dari empat Paslon yang diprediksi bakal tampil di Pilgub NTB, belum satupun Paslon yang tingkat elektabilitasnya di atas 20 persen. "Kisarannya masih diangkat 7 persen sampai dengan 16 persen dengan swing votter masih tinggi prosentasenya," ujarnya sembari mengatakan ada dua Paslon yang trend pergerakan elektabilitas naik secara signifikan yakni paket Zul-Rohmi dan Ali-Sakti.

Sementara itu, lanjut Didu, meskipun Paslon Suhaeli-Amin masih menduduki peringkat pertama dari bocoran lembaga survey tapi pergerakan elektabilitasnya cenderung stagnan. "Untuk Ahyar-Mori elektabilitas turun paska deklarasi ," tambahnya.

Meskipun demikian Mi6 tetap yakin tingkat elektabilitas semua Paslon akan naik secara signifikan saat sudah resmi mendaftar di KPU."Ini tentu terkait adanya kepastian politik para Paslon resmi berkompetisi di PilGub NTB," jelasnya.

Selanjutnya Didu mengatakan bintang Pilhub NTB adalah tampilnya calon independen Ali-Sakti yang bersaing dengan tiga Paslon yang diusung parpol.

Dari kalkulasi matematika politik, sambung Didu, loyalis votter Ali-Sakti yang sulit digoyahkan yakni dukungan resmi KTP by name, by adress yang diberikan warga ke Paslon ini. "Setidaknya Ali-Sakti sudah tahu mapping wilayah pemilihnya secara pasti untuk modal awal dukungan suaranya," tambahnya .

Terlepas polemik yang menimpa paket Ali-Sakti terkait dukungan suara yang dinyatakan TMS oleh KPU, ini harus dijadikan cambuk dan pelecut oleh Paslon yang didukung parpol untuk lebih bekerja keras dalam meraih dukungan suara konstituen. "Jika tragedi pilkada Lotim 2013 terjadi yakni saat independen menang, patut diduga ada pembangkangan loyalitas rakyat terhadap partai," imbuhnya lagi.

Terkait konstelasi politik para Paslon yang diusung parpol, Sekretaris Mi6 menambahkan ada kecendrungan para Paslon memakai taktik koalisi ramping yang penting memenuhi syarat mendaftar di KPU. "Koalisi ramping parpol ini berbahaya, jika di injury time ada perubahan dukungan karena politik serba unpredictable," kata Athar sembari mengusulkan agar Paslon dan Partai pengusung sebaiknya membuat perjanjian di notaris bahwa dukungan parpol tidak boleh dirubah dengan dasar hukum yang kuat dan saling ikat.

Athar menyarankan agar Paslon yang gagal menjadi peserta Pilgub NTB sebaiknya tim sukses saja untuk memenangkan Paslon yang didukungnya. "Tindakan ini jauh lebih produktif ketimbang berilusi tanpa ada kepastian dukungan," lanjut Athar.

Atensi PKS dukung Kadernya

Selain itu Mi6 memberikan atensi kepada PKS NTB yang memberikan dukungan kepada kadernya yakni Dr Zulkiflimansyah untuk memenangkan Pilgub NTB. "Meskipun banyak pihak ragu paket Zul-Rohmi bisa menang, tapi PKS tetap memberikan kepercayaan politik secara penuh," kata Didu sambil menambahkan bahwa terbukti mesin politik PKS lebih militan dan tertib dalam menggalang dukungan di basis.

Senentara untuk Paket Ahyar-Mori, Didu menilai masih belum optimal dalam menggarap suara ditingkat basis , khususnya di pulau Sumbawa dan menggerakkan mesin parpol pengusung nya."Paska deklarasi paket Ahyar-Mori yang besar besaran itu, Paket Ahyar-Mori cenderung coaling down, sementara Paslon lain giat bergerak ke setiap basis basis pemilih potensial," kata Didu .

Lebih jauh Didu memprediksi bahwa PKB NTB akan membuat turbulensi politik yang tidak disangka. "Asumsi normalnya pasti PKB akan mendukung Paslon yang NU, tapi kali ini mungkin tidak demikian," pungkasnya.

(mn-07/r3)

^ KEMBALI KE ATAS