Menu
Selasa, 20 November 2018 | 2:21:11 pm

Nama Bandar Udara Internasional ZAM, Cara Menghormati Kepahlawanan Ulama

Lalu Andi Sumantri, tokoh Desa Penujak Lombok Tengah Lalu Andi Sumantri, tokoh Desa Penujak Lombok Tengah

MATARAM - Polemik dan kontroversi perubahan nama Bandara Internasional Lombok (BIL) menjadi Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) sangat kontraproduktif jika terjadi pembiaran yang berlarut -larut tanpa titik temu.

"Polemik ini tentu merugikan citra baik masyarakat 'Gumi Pair Lombok' yang terkesan tidak kompak dan bersatu," kata Lalu Andi Sumantri, tokoh dari Desa Penujak Lombok Tengah (Loteng), Jumat (14/9/2018).

Padahal menurut Lalu Andi, sebagai pulau Seribu Masjid, masyarakat harusnya bangga salah satu tokoh pahlawan nasionalnya diabadikan namanya dalam prasasti Bandar Udara Internasional ZAM.

Konfrontasi wacana dan aksi pro-kontra, dikatakan Lalu Andi, jika tidak ada penyelesaian secara holistik dan kultural akan merugikan semua pihak yang bersengketa. Stigma lama bahwa masyarakat Lombok sulit bersatu dan mudah dipecah belah semakin kuat pembenarannya.

Lalu Andi mengaku prihatin dan tidak habis pikir mengapa urusan perubahan nama bandara internasional Lombok diributkan secara terbuka. Padahal dengan perubahan nama tersebut, secara religius dan kultural ada penghormatan kepada ketokohan pahlawan nasional TGKH Zainuddin Abdul Madjid, sekaligus wujud bhakti warga Gumi Pair Lombok menghormati peran kepahlawanan dan perjuangan TGKH Zainuddin Abdul Madjid.

"Sebagai Umara tidak ada yang salah dalam pengabadian nama TGKH Zainuddin Abdul Madjid sebagai nama bandara internasional di pulau Lombok," ungkapnya.

Lalu Andi merasa khawatir jika polemik ini tidak ditangani secara bijaksana oleh para stakeholder yang terlibat. Segresi sosial ini akan menjadi pintu masuk timbulnya konflik horizontal yang lebih massif.

"Untuk itu Pemerintah segera turun tangan menenangkan situasi meregangnya sosial kemasyarakatan yang sedang menyimpan bara api ini," ujarnya.

Sementara itu, Tokoh Pemuda Milineal Lintas Ummat, Sudirman Harianto, melihat ada kecendrungan meluasnya eskalasi konflik pro-kontra soal isu bandara, diduga atau ditengarai faktor X dibalik isu ini. Terlihat dari tampilnya sejumlah tokoh elit yang tidak bebas kepentingan dalam menggalang euphoria psykologi massa dengan jargon-jargon perlawanan.

"Segera melakukan moderasi eskalasi konflik penting dilakukan agar tidak menjadi bola liar yang tidak bisa dikontrol," kata Sudirman, sembari mengatakan perluasan konflik isu bandara ini terlokalisir diseputaran kalangan tokoh dan elit yang saling berseberangan sikap dan pendapat.

Sementara itu posisi tawar rakyat diduga hanya dijadikan landasan legitimasi. "Massa rakyat sebagian besar diorganisir secara instan, mereka bergerak bukan atas kesadaran indegenous dalam memahami peta masalahnya," ujar Sudirman.

Menurutnya, dalam konflik ini yang bertempur wacana hanya sebatas elit politik. Proses penyelesaian atau mediasi konfliknya lebih mudah terlokalisir karena tanpa melibatkan kekuatan rakyat dalam arti sesungguhnya.

"Model penyelesaian sangkep mencari titik temu diantara para elit penting dikedepankan secara adil dan transparan untuk mengurai permasalahan dari semua aspek," pungkasnya.

(mn-07)

^ KEMBALI KE ATAS

BERITA TERBARU


FOKUS

KOLOM





WWW.MATARAMNEWS.CO.ID adalah situs portal berita dan peristiwa.
Diterbitkan oleh PT. Mataram Media Lestari

Selalu Terhubung :