Menu
Sabtu, 21 Juli 2018 | 5:26:34 pm

OKP Lintas NTB : "Inklusi Sosial Sebagai Strategi Menjaga Keberagaman dan Perdamaian"

OKP Lintas NTB : "Inklusi Sosial Sebagai Strategi Menjaga Keberagaman dan Perdamaian"

MATARAM - Organisasi Kepemudaan (OKP) se NTB berkumpul membahas "Inklusi Sosial Sebagai Strategi Menjaga Keberagaman dan Perdamaian".

Lakpesdam NU Kota Mataram menggelar diskusi bertajuk "Inklusi Sosial Sebagai Strategi Menjaga Keberagaman dan Perdamaian", melibatkan OKP lintas iman di NTB, diantaranya hadir dari Ansor, PMII, HMI, KMHDI, HIKMABUDHIS, PMKRI, IMM, HIMMAH NW, Duta BNPT, Pemuda Ahmadiyah, dan IPNU.

"Diskusi ala zaman now bersama para aktivis mahasiswa ini, kita bisa bertemu menyamakan visi kebersamaan yang sejalan," kata M Jayadi, Ketua Lakpesdam NU Kota Mataram, Jumat (5/1/2018) malam.

Menurut Jayadi, diskusi yang digelar untuk menyamakan persepsi di kalangan OKP, karena memang mahasiswa terkadang cepat terprovoksi dengan isu isu sektoral seperti isu keragaman dan politik identitas.

"Kami harapkan dari duta damai BNPT yang memaparkan inklusi sosial itu bermuaranya pada kesejahteraan sosial. Mari kita bersikap terbuka dan mampu berdialog atau berdiskusi terutama bagi kita di OKP-OKP yang ada di NTB," imbuh Jayadi.

Ditegaskan Ketua PKC PMII NTB, Syamsul Rahman bahwa diskusi untuk menyamakan persepsi perlu dilakukan. Mengingat terkait inklusi, bagi kalangan mahasiswa merupakan barang baru.

Dalam diskusi tersebut dari perwakilan IMM NTB mengajak untuk terus bersama-sama menjaga NKRI, dan mejaga kelompok masing-masing untuk tidak saling membenturkan. "Mari kita jaga serta kita rawat bersama-sama," imbuhnya.

Selai itu dari peerwakilan PMKRI NTB menyatakan hal yang sama bahwa ketika berbicara suku, agama, ras, golongan dan lainnya, maka atas nama panggilan kemanusiaan dan hati nurani sesama manusia perlu saling mencintai, saling mengasihi satu sama lainnya.

"Kita ada disini karena kita satu Indonesia, kita perlu bersatu membangun Indonesia dengan kekayaan-kekayaan, keberagaman yang kita miliki," katanya.

Sedangkan HIMMAH NW NTB berpendapat sebetulnya keberagaman itu sudah selesai dan tidak diperdebatkan lagi, dan perbedaan itu menjadi sebuah hal yang sangat positif dalam perdamaian. "Bagi kami perbedaan itu sebuah perekat untuk perdamaian kita bersama," katanya.

Dalam kesempatan itu HMI NTB menyatakan bagi HMI hanya satu kuncinya untuk menjaga dan merawat kebhinekaan, yaitu kembali ke gotong royongan, tentunya dengan penuh cinta dan damai.

KMHDI sepakat sebagai warga negara Indonesia, Bhineka Tunggal Ika yang selalu dibawa oleh Garuda Pancasila yang kita banggakan sebagai warga negara Indonesia, harus dirawat dan dijaga bersama. "Tidak ada lagi perbedaan diantara kita untuk kemajuan kita bersama," ujarnya.

Sementara itu HIKMABUDHI NTB berharap semua perbedaan pada tingkat pemahaman yang dapat memecah harus dihilangkan. "Keberagaman kita ini harus terus menjadi pemersatu kita," harapnya.

Menurut DUTA DAMAI BNPT NTB, hal penting yang harus diketahui bersama yaitu fenomena intoleransi ini terjadi secara global bukan hanya di tingkat nasional. "Jangan pernah kita menyesal sebagai warga negara Indonesia dan jangan pernah lelah mencintai Indonesia," imbuhnya.

Inklusi sosial ini, dikatakan juga Pemuda Ahmadiyah NTB, menjadi sebuah kebutuhan. Pemerintah secara nasional harus memperhatikan kesejahteraan sosial, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. "Jadi sila kelima ini menjadi sebuah kebutuhan, bagaimana pemerintah membangun negara ini mulai dari pinggiran. Dan kami terus mengatakan cinta untuk semua," ujarnya.

Keberagaman itu juga disampaikan PMII NTB. Menurutnya bahwa keberagaman itu sesuatu yang sangat positif, seperti apa yang disampaikan KH. Hasyim Muzadi yaitu perbedaan itu tidak usah dipaksakan sama, dan persamaan itu tidak dipaksakan berbeda.

"Jadi perbedaan itu tidak dipaksakan untuk kita sama, akan tetapi perbedaan itu menjadi alasan kita untuk bersama," tandasnya.

(mn-07/r3)

^ KEMBALI KE ATAS