Menu
Rabu, 15 Agustus 2018 | 10:10:03 pm

Cerita Inovasi Suci, Kembangkan Kemampuan Literasi Anak Didik

Cerita Inovasi Suci, Kembangkan Kemampuan Literasi Anak Didik

LOMBOK UTARA - Profesi guru adalah dambaan bagi mereka yang menuntut ilmu di fakultas pendidikan, dengan harapan nantinya setelah lulus bisa menjadi tenaga pengajar yang bisa diandalkan dalam dunia pendidikan.

Hal itulah yang terbersit dalam benak Suci Fatmawanti SPd yang mengawali karirnya di tahun 2008 dengan menjadi seorang Guru Tidak Tetap (GTT) di salah satu sekolah di Praya, Lombok Tengah.

Berbekal gelar S1 PGSD yang disandangnya dan ilmu yang telah didapatkan dari bangku kuliah, selama enam tahun Suci mengabdikan diri di desa kelahirannya sebagai tenaga pengajar, sebelum akhirnya perjalanan takdir membawanya ke Kabupaten Lombok Utara.

Di Lombok Utara, Suci memulai perjalanan karirnya sebagai guru PNS dan mengabdi di Dusun Tangga. Kondisi pendidikan di desa ini membuat Suci terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan dengan terus bersabar dan tekun dalam menjalankan perannya sebagai guru.

Setelah empat tahun, Suci kemudian ditugaskan mengajar di Pemenang Barat dimana ia bertanggung jawab untuk mengajar di kelas 1 SD. Terbiasa mengajar di kelas tinggi, hal ini tentu menjadi suatu pengalaman baru baginya, termasuk ketika ia harus menghadapi siswa yang masih belum bisa membaca dan menulis. Ditambah lagi ada siswa yang berkebutuhan khusus.

Namun, kekhawatiran Suci akan sulitnya mengajar siswa kelas awal yang tidak bisa membaca dan menulis mulai menemukan titik terang ketika ia mengikuti program pendampingan dari INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), yaitu program rintisan Peningkatan Kualitas Pembelajaran Literasi di Kelas Awal atau dikenal dengan sebutan PELITA.

Berkaitan dengan kemampuan literasi siswa, menurut Suci tantangan yang ditemuinya ketika mengajar di kelas awal adalah kurangnya pemahaman siswa, terutama pada semester pertama. Masih ada siswa di kelasnya yang belum mengenal huruf, mengeja, bahkan membaca. Suci juga mengakui bahwa guru cenderung terpaku pada kurikulum.

“Kami disini terlalu terpaku sama kurikulum, sehingga kurang bisa mengembangkan kemampuan dan kreativitas kami sebagai pengajar di kelas awal. Salah satu dampaknya, bisa dilihat ketika anak-anak menjadi bosan mengikuti pelajaran. Mereka mengobrol dengan teman sebangkunya tanpa memperdulikan kami yang menjelaskan di depan. Anak-anak terkadang sampai mengantuk dan ingin cepat pulang,” ucap Suci menceritakan pengalamannya.

Suci menjelaskan bahwa praktik yang biasanya terjadi, yang kemudian kurang mendukung proses pembelajaran, adalah kurangnya interaksi antara guru dengan murid, dan kecenderungan guru untuk menerapkan metode ceramah.

Menurut Suci, diperlukan metode khusus yang bisa mendorong siswa agar lebih siap menerima pelajaran. Selain itu, guru juga masih berfokus kepada materi yang ada di buku tanpa mengembangkan maksud dari materi tersebut. Padahal, anak didik juga perlu untuk bermain, sehingga metode belajar sambil bermain dirasa perlu dikembangkan.

Itulah pengalaman Suci sebelum mengikuti program rintisan PELITA. Sekarang, kemampuan anak didiknya jauh lebih baik karena Suci mendapatkan trik dan metode baru dalam mengajar. Misalnya, komponen pembelajaran aktif yang dikenal dengan MIKIR (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, dan Refleksi).

Selain itu, Suci juga belajar bagaimana mengindentifikasi masalah pembelajaran literasi yang dihadapi siswanya di kelas, kemudian mengidentifikasi solusi alternatif dan ilmu-ilmu kreatif lainnya yang dapat diterapkan bagi siswa kelas awal yang membutuhkan bimbingan.

Setelah menerapkan apa yang dipelajarinya melalui program rintisan PELITA, Suci pun mengakui ada perubahan signifikan yang terjadi pada siswanya.

“Setelah saya menggunakan media dan metode baru dalam menyampaikan pelajaran, anak-anak terlihat lebih senang berada di dalam kelas dan mereka juga lebih aktif, lebih cepat mengenal huruf. Mereka juga menujukkan minat untuk mengikuti pelajaran yang saya berikan”.

Suci mulai menerapkan ide-ide baru sekembalinya dari pelatihan program rintisan PELITA dari INOVASI dengan membuat beberapa media yang Suci sebut ‘Buku Besar’. Media pembelajaran ini isinya cerita bergambar yang disederhanakan agar siswa lebih mudah memahami kalimat bacaan. Selanjutnya, Suci membuat lantai literasi yang dipakai belajar sambil bermain.

Media ini diakuinya sebagai salah satu cara dalam memperkenalkan kata-kata dan suku kata. Kertas-kertas yang telah digunting berdasarkan urutannya kemudian ditempelkan di lantai. Anak-anak kemudian diminta melompat dari suku kata atau kata yang tepat sesuai dengan arahan dari Suci. Lantai literasi juga menjadi salah satu cara Suci dalam menilai kemampuan membaca siswa.

Yang menarik, perubahan positif juga terjadi pada lingkungan kelas. Seperti yang dituturkan oleh Kepala Sekolah, H Syafrudin Arsyad SPd. “Setelah terlibat dalam program rintisan yang diprakarsai INOVASI, kelas yang awalnya sepi dan tidak tertata, kini menjadi rapi dan bersih. Selain lebih tertata rapi, kelas-kelas menjadi lebih ramai dan nyaman,” tutur Syafrudin.

Melihat perubahan yang mulai terjadi, Suci berharap agar program rintisan PELITA dapat disebarluaskan ke sekolah-sekolah lainnya di Kabupaten Lombok Utara. Ibu satu anak ini juga berharap agar dukungan yang diberikan INOVASI di Lombok Utara juga dapat menyasar anak berkebutuhan khusus.

“Jadi jangan hanya PELITA saja yang dikembangkan disini. Setelah kami mengikuti PELITA, salah satu tantangan yang kami identifikasikan adalah terkait anak berkebutuhan khusus. Nah, bagaimana sebaiknya solusi untuk tantangan tersebut? Kalau bisa, INOVASI memberikan pelatihan pada guru-guru di sekolah negeri untuk menghadapi anak yang berkebutuhan khusus tersebut. Karena sekolah negeri tidak boleh menolak siswa, baik itu anak yang berkebutuhan khusus maupun anak dengan disabilitas,” harap Suci.

Di tengah kegembiraan melihat kemajuan anak-anak didiknya, terselip harapan Suci untuk mereka lebih menghargai buku. Bagi Suci bila siswa lebih menghargai buku maka secara tidak langsung mereka akan senang untuk membacanya. Perkembangan zaman juga menjadi masalah. Suci juga berpendapat, menurunnya minat membaca siswa juga dapat disebabkan karena kurangnya keterlibatan orang tua di rumah dalam membimbing anaknya.

“Orang tua terlalu memberi kebebasan pada anak-anaknya untuk bermain HP ketimbang memberi mereka buku untuk dibaca. Padahal, di sekolah anak-anak selalu kami arahkan ke perpustakaan untuk membaca buku-buku cerita bergambar agar anak-anak tidak merasa bosan dalam membaca. Itu salah satu cara meningkatkan minat membaca anak-anak di sekolah,” jelas Suci.

Guru adalah representasi kemuliaan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui proses pendidikan. Pahlawan tanpa tanda jasa bahkan tersemat padanya akan tetapi gelar tersebut tidak akan cukup dijadikan sebagai tolak ukur dalam menghargai jasa yang telah dilakukan dalam rangka mencetak sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, Suci akan terus berupaya untuk mengabdikan diri dalam rangka mencerdaskan anak didik di NTB, khususnya di Kabupaten Lombok Utara.

(mn-09)

^ KEMBALI KE ATAS