Harga Beras Naik Akibat Beras Impor Masuk NTB

Mataram, MATARAMnews – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTB, Ir. Lalu Imam Maliki, mengakui tingginya harga beras di sejumlah pasar tidak terlepas dari beredarnya beras impor yang masuk ke NTB.

Saat ini saja, harga beras di beberapa pasar tradisional di NTB di telah menembus Rp8.000 hingga Rp9.500 per kilogram. Relatif tingginya harga beras di pasaran cukup membebani masyarakat, termasuk petani dan buruh tani yang beralih menjadi konsumen pada saat musim paceklik.

“Kita tidak bisa mempungkiri hal itu, namun kita tetap berupaya untuk bisa menekan harga beras supaya tidak terlalu tinggi,”kata Imam.

Untuk itu, saat ini pihaknya sedang mencari jalan atau solusi guna menekan harga beras tersebut, termasuk dengan meminta agar DPRD NTB membuat regulasi terkait beras di NTB. Namun, itu semua tergantung dewan.

Badan Urusan Logistik (Bulog) Divisi Regional NTB sendiri  mendatangkan sekitar 10.000 ton beras impor di saat provinsi ini tengah mengalami surplus. Beras impor dari Vietnam dan India tersebut tiba di Pelabuhan Lembar, Kabupaten Lombok Barat pada bulan Desember 2011 lalu melalui tiga tahap.

Bulog Divisi Regional (Divre) NTB mendatangkan beras impor karena melaksanakan instruksi pemerintah pusat mengenai pembagian jatah beras impor untuk masing-masing provinsi di Indonesia. Dimana, Provinsi NTB termasuk salah satu provinsi penerima beras impor, meskipun surplus beras.

Upaya mendatangkan beras dari luar negeri tersebut sebagai langkah antisipasi karena cadangan beras Bulog Divre NTB sebanyak 29.000 ton, hanya mampu memenuhi kebutuhan hingga Februari 2012.

Persoalan harga beras di NTB yang terus mengalami kenaikan juga menjadi salah satu alasan untuk mendatangkan beras dari luar negeri. Relatif tingginya harga beras di pasaran cukup membebani masyarakat, termasuk petani dan buruh tani yang beralih menjadi konsumen pada saat musim paceklik.

Terbatasnya daya serap Bulog Divre NTB membeli gabah atau beras petani disebabkan karena Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu memiliki kendala, yakni harus mengacu pada harga pembelian pemerintah (HPP) dalam membeli gabah atau beras petani.

Sementara harga yang berlaku di pasar, terutama pada saat musim paceklik jauh di atas HPP sebesar Rp2.640 per kilogram untuk gabah kering panen (GKP), sedangkan dalam bentuk gabah kering giling (GKG) mencapai Rp3.400 per kilogram.

Data Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura NTB, tercatat daerah ini mengalami surplus atau kelebihan produksi beras sebanyak 620.833 ton. Surplus terjadi karena produksi beras hingga September 2011 mencapai 1.165.272 ton, sedangkan tingkat konsumsi beras penduduk NTB yang jumlahnya sekitar 4,4 juta jiwa sebanyak 544.338 ton.

Produksi beras sebanyak 1.165.272 ton dihasilkan dari produksi gabah kering giling (GKG) sebanyak 2.056.879 ton hingga September 2011, atau sudah mencapai 101,98 persen dari yang ditargetkan pemerintah pusat sebanyak 2.016.978 ton, pada 2011.

Bagikan :