Ritual Maulid Nabi Secara Adat Ala Sesait

Salah satu proses Ritual Maulid Adat Ala Sesait

KLU, MATARAMNews – Pelaksanaan prosesi ritual Maulid Adat di wet Sesait tahun 2012 ini di laksanakan selama empat hari berturut-turut. Berikut pemaparan secara rinci prosesi Ritual Maulid Adat yang disampaikan oleh para tokoh adat Sesait, Asrin dan Djekat kepada MataramNews, (7/2/2012).

Rangkaian acara Ritual Maulid Adat dimulai dengan Bau Praja Nina atau Praja Mulud (mencari/menangkap anak perempuan yang belum aqil baliq sebagai simbol kesucian) untuk Menutu Pare Bulu (menumbuk padi yang berbulu sampai menjadi beras).

Praja Nina ini ditempatkan dirumah yang sudah disiapkan disekitar Kampu, mulai tinggal sejak ditangkap sampai berakhirnya ritual prosesi Maulid Adat.

Setelah itu dilanjutkan Menguluh yaitu mengambil Pare Bulu (padi yang berbulu) dari Sambi (lumbung) pada Jum’at (3/2/2012).

Hari kedua, Sabtu (4/2/2012) dilaksanakan ritual Menutu Pare Bulu dan unggunnya (kulit padi) dibuang ke Lokok Kremean yang dirangkaikan dengan mandi Praja Mulud. Setelah itu dilanjutkan dengan Pembuatan Jaja Pangan (Jajan sejenis wajik) dan air untuk membuatnya diambilkan dari Lokok Paok, yang keberadaan Lokok Paok ini sekitar 1 km ke arah barat laut Kampung Sesait.

Ritual pengambilan air ini harus di ambil oleh Praja Mulud nina ini. Konon ceritanya, di sumur inilah tempat Legenda yang sudah mengakar di masyarakat Sesait mandi melangeh dari Inaq Empleng Beleleng (sekarang di Gunung Konoq).  Menjelang Magrib, Gong Gambelan (Gong Dua) diturunkan,”urai Asrin.

Selanjutnya, hari ketiga Minggu (5/2/2012) yaitu acara Merembun (mengumpulkan) beras bagi Ina Bapu (sebutan bagi kaum hawa/ibu-ibu dan nenek-nenek) sekaligus juga waktu untuk membuat jajan selain pangan.

Merembun adalah sebuah acara yang begitu hikmah, agung dan sakral karena pada saat ini semua masyarakat khususnya ibu-ibu dan dedara (gadis) datang ke kampu (rumah khusus) yang merupakan suatu tempat penyimpanan barang peninggalan sejarah (setelah tidak berkuasanya lagi Datu Sesait), seperti Al qur’an yang di tulis tangan oleh seorang ulama bernama Titik Lebe Sriaji atas perintah Sayyid Anom pada zaman berkuasanya Demung Musani dan kitab-kitab serta benda peninggalan lainnya.

Ratusan warga yang datang untuk merembun sambil menjunjung bakul yang berisikan beras, kelapa, pisang, kayu bakar dan aneka jajanan untuk kebutuhan maulid adat. Tua, muda dan anak-anak menggunakan kebaya antre panjang menunggu giliran untuk menyetor barang bawaannya.

Semua bahan yang dibawa tadi dikumpulkan dibalai adat yang di sebut Kampu (singgasana Raja) yang sehari-hari di tunggui oleh seorang Mangku Gumi dari keturunan Datu Sesait (Demung), yaitu Maidi (Mangku Gumi/Raja Sesait ke 28).

Acara Merembun ini di gelar sebagai wujud atau menggambarkan rasa kegotong- royongan masyarakat Gumi Sesait. Prosesi ini berlangsung hingga sore hari. Ketika seluruh komunitas adat wet Sesait sudah datang dan mengikuti prosesi merembun, barulah pada tahap berikutnya dilaksanakan memajang.

Menjelang sore hari akan dilakukan persiapan Memajang atau Ngengelat yang akan dilaksanakan setelah sholat Asyar berjamaah sampai menjelang waktu sholat Magrib dan Isya di Mesjid Kuno. Terlebih dahulu Al-Qur’an Kuno yang di tulis tangan Titik Lebe Sriaji, yang menggunakan kulit unta dikeluarkan dari salah satu bangunan tua di dalam Kampu. Bangunan tua ini semacam museum tempat menyimpan aneka benda-benda peninggaan sejarah Datu Sesait.

Al-Qur’an yang dibawa oleh Toak Lokaq Amaq Inyo (Pembawa Al-Qur’an) dan Amaq Palip (Pembawa Kain Putih), di iringi oleh Tau Lokak Empat serta punggawa lainnya di belakang dengan anggun berwibawa menuju Mesjid Kuno, guna melakukan prosesi ritual memajang.

Acara ini merupakan perwujudan dari upaya menjaga kesucian dan kerjasama yang baik antara pemimpin agama dan pemimpin adat yang disebut Tau Lokaq Empat. Dimana memajang ini dilakukan pemasangan kain putih di langit-langit dalam Mesjid Kuno Sesait secara serempak oleh ke empat tokoh. Setelah semua kain putih terpasang, maka ke empat tokoh melanjutkan acara memajang ( memasang ) yaitu pemasangan benang yang terdiri dari empat warna : merah, putih, kuning, biru.

Dari ke empat warna ini di pasang pada ke empat tiang masjid yang mengandung makna : Benang merah di pasang oleh Pemusungan pada tiang sebelah tenggara yang melambangkan keberanian, Benang putih di pasang oleh penghulu pada tiang sebelah barat daya yang melambangkan kesucian, Benang kuning di pasang oleh Jintaka pada tiang sebelah barat laut yang melambangkan keberhasilan perekonomian,Benang biru dipasang oleh Mangku Gumi pada tiang sebelah timur laut yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran.

Menurut tokoh adat Sesait Djekat mengungkapkan, untaian benang merah yang di pasang oleh Pemusungan, selain menggambarkan keberanian, dapat juga menunjukkan watak dan kepribadian sahabat Nabi Muhammad saw yang pertama Abu Bakar,r.a, kemudian untain benang putih yang di pasang oleh Penghulu menggambarkan kesucian, sebab tokoh agama adalah pengemban amanat untuk selalu melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad saw, menunjukkan watak dan kepribadian sahabat Nabi Muhammad saw yang kedua Umar,r.a, lalu untaian benang kuning dipasang oleh Jintaka melambangkan keberhasilan perekonomian yang mapan, menunjukkan watak dan kepribadian sahabat Nabi Muhammad saw yang ketiga Ustman,r.a.

Kemudian pemasangan benang biru yang dilakukan oleh Mangkugumi, selain melambangkan kemakmuran dan ketentraman dapat pula memberikan makna kehidupan yang sejahtera lahir dan batin ( dunia dan akhirat ), menunjukkan watak dan kepribadian sahabat Nabi Muhammad saw yang keempat Sayyidina Ali,r.a. Konsep Negara Republik Indonesia sudah ada di Babad tanah leluhur Sesait dari sejak dulu. Termasuk warna bendera merah putih yang tercantun dalam UUD 1945.

”Ritual Memajang merupakan ritual pertama sebagai pembuka pelaksanaan ritual-ritual lainnya. Adapun makna dari ritual Memajang adalah sebagai simbol persamaan dan kesetaraan umat Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah Swt.

Setelah selesai Memajang yang dilakukan oleh Tau Lokak Empat (Mangkubumi, Penghulu, Pemusungan dan Jintaka), dilanjutkan dengan sholat Magrib dan Isya. Ini semua dilaksanakan di Mesjid Kuno.

Dengan selesainya pemasangan ke empat warna benang tadi, dilanjutkan dengan berjabat tangan secara silang antar Tau Lokak empat (Pemusungan, Penghulu, Mangkugumi dan Jintaka) yang mengandung makna dan hakekat kebersamaan dalam membina masyarakat secara meyeluruh.
Semua rangkaian acara ritual tersebut diiringi dengan gong dua ( gong kemenangan Islam), dibarengi dengan tari-tarian oleh para wanita mengikuti iringan gamelan gong dua di halaman depan Mesjid Kuno.

Kegiatan berikutnya yaitu pada malam harinya dilaksankan Semetian (Perisian) di halaman Mesjid Kuno, dimana Semetian (Perisian) ini dalam masyarakat Sasak dikenal dengan saling pukul menggunakan Penjalin (rotan) yang masing-masing bertameng (Ende/Perisai) yang terbuat dari kulit sapi,kerbau atau kambing.

Acara semetian dalam rangkaian proses ritual Maulid Adat di wet Sesait ini harus diawali oleh Pepadu (Jagoan) Nina Sik Wah Supuk (perempuan uzur yang sudah monopaus), barulah Pepadu Mama boleh bertarung sampai tengah malam.

“Acara ini merupakan wujud dari latihan perang dilakukan oleh Nabi Muhmmad saw dan para sahabat r.hum sehingga diadakan pada malam hari sebagai tanda bahwa kegiatan itu dirahasiakan, sebab, jika dilakukan pada siang hari maka akan diketahui musuh.
Adapun acara puncak prosesi ritual Maulid Nabi Besar Muhammad Saw yang dikemas secara adat dilaksanakan pada hari keempat (Senin,06/02), yaitu keesokan harinya setelah Memajang da
n Semetian dilakukan.

Rangkaian ritual pada acara puncak tersebut, diawali dengan ritual Bisok Beras (cuci beras) dipagi harinya ke Lokok Kremean (diyakini sebagai tempat pemandian bidadari dan orang-orang suci). Lokok Kremean ini pun di jaga oleh Mangkunya yang bernama Lakiep (keturunan ketujuh). Cuci beras ini dilakukan oleh kaum hawa (baik yang masih gadis maupun yang sudah berkeluarga), dengan di Abih (diapit) baris tiga oleh kaum laki-laki (barisan Nina ditengah diapit barisan Mama).

Dengan berbaris panjang menuju lokok Kremean dengan kekuatan 263 orang sambil membawa bakul berisi beras, dibelakangnya diiringi oleh gong dua (diturunkan dari Santong Asli), dimana gong dua ini menunggu di gitak pengaluan sekitar 200 meter kea rah barat Suker, sementara barisan cuci beras langsung ke lokok Kremean, sebuah Sumur yang satu-satunya ada pada zaman dulu, yang berada di ujung barat desa sesait yang langsung berbatasan dengan desa pendua. Barisan pembawa beras tersebut secara bergilir mereka mencuci beras yang dipimpin oleh mangku Lokok Kremean Lakiep.

Oleh masyarakat adat Sesait, Lokok Kremean ini keberadaannya di yakini sebagai satu-satunya sumber mata air yang mampu memberikan warna kehidupan bagi keberhasilan dan kesucian.
Setelah selesai mencuci beras, para ibu-ibu dan dedara tadi langsung kembali menuju Kampu dengan diiringi oleh gong dua yang sejak awal sudah menunggu di Gitak Pengaluan, dan bunyi gendingnya pun di gunakan tabuh jawa rejang. Bunyi tabuh Gong Dua yang mengiringi para peserta bisok beras ini pun mengandung maksud dan makna bahwa, barisan atau rombongan pencuci beras itu telah kembali dengan selamat dan melaporkannya kepada pemerintah setempat untuk di inventarisir hasil kegiatannya. Pemerintah yang dimaksud adalah para tokoh-tokoh adat dan agama di pusat Kampu (Kerajaan zaman itu).

Ba’da Zhohor, acara dilanjutkan dengan Berkurban dengan menyembelih Kerbau (Sembeleh Kok) yang ukuran,umur dan bobot sudah menjadi ketentuan para leluhur (Kok Kembalik Pokon).
Dalam pemotongan hewan ini dilakukan menurut tahun dan ketentuan musyawarah atau menurut faham Isik aluq (tahun delapan).

Jika memotong kerbau atau kambing dilakukan di depan pintu gerbang Mesjid Kuno dengan cara; Sebelum pemotongan hewan, lubang digali terlebih dahlu dengan ukuran 1 x 1 meter, itu maksudnya untuk penampungan darah hewan, dan apa bila hewan yang telah dipotong telah mati maka, semua darah kerbau yang ada dalam lubang ditimbun agar tidak mengeluarkan bau amis. “Itu membuktikan darah itu haram dilihat ataupun untuk dimakan,”kata Asrin, Kepala Dusun Sesait, yang juga ketua pelaksana kegiatan Maulid adat tahun ini.

Sementara di dalam Kampu, pada saat yang bersamaan, Nasi Aji (yang akan dibawa ke Mesjid Kuno) dan Payung Agung (nanti ditempatkan dipintu masuk Mesjid Kuno) juga dipersiapkan. Persiapan ini tidak sembarang orang yang mengerjakannya, harus berdasarkan Purusa (garis keturunan).

Setelah berkurban (Sembeleh Kok), dilanjutkan dengan Mbau Praja Mama dengan cara mengejar dan menangkap setiap laki-laki yang belum aqil baliq sebanyak tiga orang yang akan dijadikan putra Mahkota, untuk disandingkan dengan Praja Nina (yang sudah terpilih pada hari pertama saat menutu pare bulu) sebagai Praja Mulud (sepasang putra-putri mahkota).

Praja Mulud bertugas sebagai penjaga pintu Mesjid Kuno dengan membawa Payung Agung dan menjaganya dari sentuhan orang lain yang melewati pintu Mesjid Kuno. Jika Payung Praja Mulud (Payung Agung) disentuh orang lain, maka diberi sanksi yaitu dipukul menggunakan Pemecut (Penjalin yang diberi tali) oleh Praja Mulud.

Menjelang sore hari pada hari terakhir dari ritual Maulid Adat di wet Sesait ini, kemudian dilanjutkan dengan Naikang Dulang Nasi Aji yaitu dulang yang berkaki satu sebanyak empat dulang yang di bungkus dengan kain putih yang dikhususkan bagi Tau Lokak Empat; Pemusungan, Mangkubumi, Penghulu dan Jintaka). Hal tersebut mengandung makna sebagai tanda rasa syukur atas keberhasilan dalam membina dan memimpin umat.

”Waktu Naikang Nasi Aji ke Mesjid Kuno ini, diyakini yaitu pada waktu Gugur Kembang Waru ( waktu menjelang Magrib). Prosesi ritual pun berakhir dan ditutup dengan Do’a oleh Penghulu Adat.