TANJUNG, MataramNews, Setiap masyarakat memiliki bentuk apresiasi tersendiri yang berbeda dengan masyarakat daerah lain dalam rangka menghabiskan nostalgia dengan masa-masa yang sedang dijalani pada tahun bersangkutan dan guna menyongsong kehadiran tahun berikutnya. Apresiasi itu tampak dari perilaku dan tindakan tiap-tiap masyarakat di suatu wilayah.

{xtypo_info} Foto: Pasangan menikah pilih moment tahun 2012 {/xtypo_info}

Begitu pula dengan masyarakat Dusun Todo, Dasan Bangket dan Dusun San Baro Desa Bentek Kecamatan Gangga menghabiskan masa transisi 2011 menuju 2012 dengan melakukan perkawinan dalam waktu yang hampir bersamaan. Betapa tidak, dalam jangka waktu tiga bulan terhitung mulai Oktober hingga Desember 2011 setidaknya ada 26 pasangan pemuda-pemudi menjalankan perkawinan baru. Di dusun San Baro, setidaknya ada 12 pasangan yang melangsungkan perkawinan baru. Sedangkan untuk Dasan Bangket sejumlah 9 pasangan dan di Dusun Todo sejumlah 5 pasangan.

Fenomena ini menunjukkan sikap apresiasi masyarakat setempat cukup prestise dalam menghabiskan masa-masa inkubasi 2011 dan menyambut datangnya tahun baru 2012. Cara masyarakat di tiga dusun bersangkutan  dalam memanfaatkan waktu yang terbilang cukup pendek tersebut merupakan sesuatu peristiwa yang langka karena tidak biasanya terjadi pada masyarakat di wilayah lain di desa setempat ataupun di seantero belahan bumi adi mirah paer daya. Peristiwa itu bukan kebetulan terjadi, namun direncanakan jauh-jauh hari sebelumnya. Meskipun, kemungkinan peristiwa yang sama juga terjadi di daerah lain di nusantara dalam rangka menutup tahun serta menapaki masa-masa selanjutnya pada tahun berikutnya.

Namun demikian, peristiwa perkawinan yang dijalankan oleh warga masyarakat tiga dusun di desa setempat tetap merupakan suatu fenomena di luar kebiasaan umum meski disepadankan dengan makna perkawinan massal. Perbedaannya lerletak pada waktu pelaksanaannya. Perkawinan massal dilaksakan dalam satu waktu atau waktu yang sama. Tapi, prosesi penyelenggaraan perkawinan pada masyarakat tiga wilayah di atas tidak dalam satu momentum tetapi berbeda waktu walaupun berjarak waktu sangat pendek atau hampir bersamaan. Tetapi tetap saja berbeda dengan arti perkawinan massal baik prosesnya maupun tata cara pelaksanaannya.

Pola tindakan suatu masyarakat untuk merayakan sesuatu yang bersentuhan langsung dengan kehidupannya seperti dinampakkan oleh  masyarakat di tiga wilayah di atas perlu diberi apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya oleh pelbagai komponen karena hal itu merupakan nilai-nilai pluralisme budaya yang hidup dan tumbuh di tengah masyarakat, bahkan mungkin habitus sekte-sekte komunitas masyarakat. Sedangkan budaya apresiasi perlu digaungkan di tengah masyarakat untuk membangun energi semangat pembangunan pelbagai sektor kehidupan. Di negara-negara maju misalnya, budaya apresiasi tak pelak menjadi urat nadi pembangunan di berbagai lini dan terbukti dapat memacu segala bentuk pembangunan yang digalakkan demi memajukan kehidupan masyarakatnya.

Di negara kita khususnya di paer dayan gunung, budaya apresiasi terhadap pluralitas budaya yang dimiliki masyarakat belumlah mendapat sambutan hangat dari para pemangku kebijakan daerah. Dampaknya, nilai elenvital energi pembangunan tidak dapat berjalan semestinya, kalau tidak dikatakan – involutif – sama sekali. Ini terlihat dari penyambutan tahun baru 2012 di bumi Tioq Tata Tunaq sangat berbeda dengan daerah-daerah lainnya di NTB, misalnya Lombok Tengah dan Kota Mataram. Apresiasi pemerintah dan antusiasme masyarakat kedua daerah cukup tinggi. Ini membuktikan sikap reflektif mereka dalam membangun daerah sebelumnya juga cukup matang. Sehingga 2011 menjadi tahun analisa konteks dalam melanjutkan kinerja membangun daerah pada 2012.





Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !