- advertisement -

TANJUNG, MataramNews – Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itulah pribahasa yang tepat untuk Ratik (40) dan keluarganya, warga Dusun San Baro Desa Bentek Kecamatan Gangga Lombok Utara. Perempuan yang kesehariannya berprofesi sebagai penganyam bambu ini terpaksa dikenakan denda Rp. 65.450 oleh pemerintah setempat (Kepala Dusun dan Ketua Adat San Baro) akibat salah menafsirkan mimpi yang dialami menantunya, Mahlini (22).

{xtypo_info} Foto: Pihak  yang bertikai duduk bersama di Berugak, sang kadus {/xtypo_info}

Sanksi tersebut dikenakan pada Ratik berdasarkan pada hukum adat setempat. Dengan rasa kecurigaan yang mendalam, Ratik menuduh Bati mendatangi sang menantu dalam mimpi saat tidur pada Minggu (01/01/12) sekitar pukul 02.00 dini hari. Menurut penuturan Ratik, setiap kali menantunya bermimpi saat tidur adalah Bati. Dan, ironisnya setiap kali bermimpi sang menantu selalu memberi tahu mertuanya. Bahkan, lanjut Ratik, menantunya kerap berteriak minta bantuan pada keluarganya manakala bermimpi pada malam hari.

Ratik mengaku merasa heran pasalnya setiap menantunya bermimpi, yang hadir menghantui menantunya di dalam mimpi selalu Bati seorang. “Saya merasa heran, setiap Mahlini bermimpi yang terlintas di bayangan mimpinya adalah Bati,” akunya pada MataramNews.

Merasa kasihan pada menantunya yang terus bermimpi jelek saat tidur, akhirnya pada keseokan harinya sekitar pukul 06.00 Wita, Ratik, terang-terangan menuduh Bati melakukan perbuatan menghantui menantunya di dalam mimpi. Atas tuduhan itu, Bati, tak tinggal diam. Ia tidak terima tuduhan yang difitnahkan kepadanya dan langsung menyerang balik meminta Ratik mempertanggungjawabkan perkataan yang dituduhkan kepadanya.

Kedua warga bertentangga ini sempat dua kali bertengkar adu mulut. Warga yang rumahnya hanya berselang satu rumah ini terus-menerus bertengkar bahkan hampir adu jotos, sehingga membuat warga lain di sekitarnya turun tangan untuk melerai pertengkaran keduanya. Rudi dan Supriandi, tetangga dekat Ratik dan Bati berhasil meredakan pertengkaran keduanya.

Tampaknya, suasana hati Bati yang tak menerima tuduhan Ratik kepadanya tetap terngiang dan bersemi panas di dalam hatinya sehingga berselang satu jam kemudian ia menantang Rati bertengkar untuk kedua kalinya. Sahdan, pertengkaran yang kedua di antara mereka pun tak terbendung dan berlanjut sekitar satu jam berikutnya.

Khawatir atas pertengkaran keduanya yang tampaknya tak kunjung berhenti, beberapa warga yang menyaksikan langsung kejadian akhirnya turun tangan menegahi mereka. Kabil, salah seorang warga yang menyaksikan secara langsung gejolak pertengkaran keduanya turun tangan meleraikan kejadian. Ia langsung menegahi persoalan yang menyebabkan keduanya berkelahi. Pria separuh baya ini menyarankan agar mereka menghentikan pertengkaran dan meminta maaf satu sama lain. “Tolong hentikan pertengkaran, kalian sudah tua kok kayak gini. Silakan bubar jangan bertengkar terus. Tak ada gunanya kalian bertengkar cuma membuat hubungan renggang saja,” sarannya.

Atas kejadian yang menimpa dirinya berselang 30 menit setelah pertengkaran mereka yang kedua, Bati, melaporkan fitnahan Rati yang dituduhkan kepadanya kepada Kepala Dusun setempat, M. Zakaria. Namun, sang kadus sedang tidak ada di rumah. Sambil memundak malu atas tuduhan Ratik, Bati pun kembali ke rumah M. Zakaria melaporkan kejadian yang menimpa dirinya. Sang kadus pun menerima baik laporan yang disampaikan Bati.

Sorenya, kedua warga yang bermasalah itu dipanggil sang kadus untuk membicarakan masalah mereka. Setelah pihak-pihak yang bertikai duduk bersama di Berugaknya, sang kadus pun mulai mengusut masalah diantara keduanya. Saat ditanya kepala dusun, Ratik, membeberkan alasannya melontarkan perkataan yang menyudutkan Bati. “Menantu saya (Mahlini-red), tadi malam bermimpi buruk. Di dalam mimpinya ia dicekik Bati. Menantu saya teriak minta pertolongan pada saya,” bebernya pada sang Kadus. Bahkan, lanjut Ratik, menantunya tak hanya sekali mimpi dihantui Bati, tapi sering kali dan tiap kali menantunya bermimpi yang hadir di dalam bayangan mimpinya selalu Bati.

Mendengar pengaduan Ratik, Ketua Adat San Baro, Surahman, mengatakan, seharusnya tuduhan itu tak perlu diungkapkan. Pasalnya, sangat sulit membuktikan kebenaran mimpi. Apa yang dilakukan Rati itu murni tuduhan karena tanpa ada bukti yang jelas dan masuk akal. “Mimpi itu kan bunga tidur. Sulit membuktikan mimpi. Siapa pun tak dapat membuktikan mimpi. Jadi wajar Ibu Bati melapor kejadian yang dialaminya.

Ke depan jangan sampai terulang kembali kejadian seperti ini,” sarannya pada Bati dan Ratik. Sama dengan Surahman, M. Zakaria mengungkapakan hal yang sama, bahwa mimpi memang sulit dibuktikan kebenarannya. Sang kadus memberi nasehat kepada warganya khususnya kedua warga yang bertikai agar jangan sampai gegabah dalam menyikapi masalah yang dihadapi supaya tidak terjadi hal serupa di masa akan datang. Menakhiri pembicaraan, kedua warga yang bermasalah diminta hidup rukun kembali seperti sedia kala serta mengajak mereka saling memaafkan yang ditandai dengan berjabatan tangan satu sama lain.