Lombok Utara, MATARAMNews – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara yang didirikan di Desa Loloan, yang dibangun tahun 2005 lalu, semula dikenal dengan sekolah delapan sembilan.
Istilah itu diperoleh, karena para siswa masuk jam 08.00 dan pulang pukul 09.00 wita pagi.  Istilah yang diberikan masyarakat ini sebagai pukulan telak bagi para guru yang hampir semuanya guru honorer.

“Itu terjadi, karena kurang mendapat perhatian dari pemerintah dan selalu terlambat memperoleh informasi khususnya yang berkaitan dengan program dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbudpora), seperti surat mengikuti sebuah kegiatan yang kadang-kadang diterima setelah kegiatan tersebut dilaksanakan”, ungkap beberapa guru setempat.

Sejak kepemimpinan Kepala Sekolah, Ahki, S.Pd, SMPN 4 Bayan terus berbenah dan berusaha meningkatkan baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. “Perjuangan pak Ahki sebagai kepala sekolah bersama Guru Tidak Tetap (GTT), SMPN 4  mampu memperbaiki citra sekolah delapan Sembilan menjadi sekolah yang maju dan berkualitas”, ungkap Hamdi, S.Pd, salah seorang guru GTT setempat.

Dari sisi kualitas, dapat dilihat  dari proses belajar-mengajar dan disiplin waktu yang diterapkan baik bagi guru maupun siswa. Sementara pembangunan fisik, pihak sekolah berhasil membangun taman dan lapangan olah raga bagi siswa.

 “Semua ini kami lakukan untuk mengembalikan citra sekolah kearah yang lebih baik, sesuai dengan tujuan pendidikan untuk meningkatkan sumber daya manusia, sekaligus mengubah pandangan masyarakat  dari yang kurang baik menjadi lebih baik sehingga banyak siswa akan tertarik masuk di SMPN 4 Bayan”  jelas Ahki.

Dikatakan, para pendidik SMPN 4 Bayan yang  semuanya GTT itu  terus melakukan perubahan sistem pembelajaran yang dapat meningkatkan mutu dan kualitas siswa lulusan SMPN 4 Bayan.  “Disini hanya memiliki dua guru negeri, yaitu kepala sekolah dengan guru agama, sementara puluhan orang lainnya semuanya GTT”, kata Ahki.

Hamdi, Spd meminta kepada pemerintah kabupaten maupun provinsi bahkan pusat, untuk memperhatikan perjuangan guru-guru honorer ini. Jangan sampai dimasukkan guru PNS, lalu guru honorer yang berjuang sejak berdrinya sekolah ini disingkirkan.

Terkait kekurangan guru negeri, Kepala UPTD Dikbudpora Kecamatan Bayan, Drs. Sahibudin mengaku, kecamatan Bayan masih bertengger diurutan pertama kekurangan guru dan ruang belajar di KLU. “Khusus untuk SPMN 4 Bayan, hanya memiliki dua guru negeri, itu termasuk dengan kepala sekolah. Sedangkan sisanya GTT”, katanya.

Karenanya,  Sahibudin meminta kepada pemerintah untuk menambah guru negeri di SMPN 4 . “Dan bila ada pengangkatan guru negeri, alangkah baiknya yang diangkat itu adalah guru-guru yang sudah lama mengabdi disekolah tersebut”, tegasnya.





Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !