HUT KLU dan Budaya Sadar Bencana

Penulis : Sarjono (Mantan Wasekjen PMII Cabang Yogyakarta)

Bagi masyarakat yang hidup di pusaran zona potensial bencana seperti masyarakat di Lombok Utara, perlu memaknai perayaan hari ulang tahun secara lebih substansial daripada hanya sekedar acara seremonial dengan gegap gempita kegiatan yang berujung tidak lebih dari eforia momentum peringatan sejarah terbentuknya daerah otonomi terbungsu di NTB. Momentum ini mesti dipahami sebagai spirit kebangkitan kultur masyarakat yang sadar betapa wilayahnya yang dipijaki secara geologis rentan terhadap.bencana.

Bangkit dari musibah bencana gempa bumi yang baru setahun dialami bukan hanya bermakna membangun kembali aspek fisik material maupun pemulihan aspek psikis masyarakat. Tetapi lebih penting bagaimana membangun spirit baru untuk memulai membiasakan pola hidup sehari-hari yang peduli betapa pentingnya arti kesadaran terhadap kesiapsiagaan atas potensi bencana yang bisa saja setiap saat mengancam jiwa. Memulai pola hidup berkesadaran bencana memang tidak mudah. Tapi kondisi wilayah yang berpotensi tinggi diterpa bencana alam meniscayakan kita membuka mind set dan paradigma baru akan arti penting kesadaran setiap individu terhadap antisipasi bahaya bencana.

Jika kita semua optimis mampu bangkit dari keterpurukan psikologis dan fisikologis pascagempa bumi 2018 silam, maka kita juga harus optimis mampu bangkit membangun kesadaran diri terhadap urgennya arti kesiapan menghadapi bencana yang setiap saat terjadi dan tidak terprediksi waktu kejadiannya. Kita perlu pembuktian yang sungguh-sungguh dengan komitmen dan niat yang tulus maupun tekad bulat, bahwa kita mampu melakukannya meskipun secara perlahan, setahap demi setahap serta sehasta demi sehasti. Hal yang terpenting memastikan upaya yang dilakukan untuk membangun budaya sadar bencana. Optimisme diperlukan untuk mengawal tindakan merubah pola sikap dan perilaku sehari-hari. Bangkit dari keadaan saat ini dengan menanamkan kesadaran penyelamatan dan kesiapsiagaan mitigasi untuk bekal menghadapi suatu tragedi bencana di masa depan. Sedari saat ini kita mesti mulai menatakelola bagaimana strategi penanggulangan dan penanganan sejak dini. Kita memiliki sumber daya dan kita juga memiliki semangat untuk mencapai suatu keadaan masyarakat peduli bencana. Perihal yang kita perlukan bagaimana memobilisasi spirit yang ada dalam diri.

Terlebih lagi kita semua merasakan seabrek problem akibat amukan gempa bumi tahun lalu. Tampak di depan mata jejak prahara bencana yang kini sedang menghinggapi kita. Senyatanya kita juga sempat berputus asa pada ekspektasi masa depan. Situasi demikian harus segera kita lupakan dengan bertungkus lumus dalam ikhtiar kolektif membangun kesiapan dini untuk penyelamatan diri.

Sudah saatnya masyarakat Lombok Utara mulai melupakan tragedi gempa yang melanda 2 tahun silam, pada 29 Juli 2018, gempa M 6,4 mengguncang Bayan di pesisir timur Lombok Utara. Sepekan kemudian, 5 Agustus 2018 gempa M 7.0 kembali mengguncang Lombok Utara berakibat seluruh wilayah di daerah otonom yang berusia satu dasawarsa ini terdampak. Kerugian yang ditimbulkan cukup fantastis mencapai triliunan rupiah. Gempa yang terjadi di zona yang belum terpetakan ini mengingatkan penulis akan pentingnya membangun budaya siaga bencana.

Gempa yang melanda Lombok Utara termasuk menengah, tetapi memicu kerusakan parah dan 500 lebih korban tewas akibat tertimpa bangunan. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, jumlah rumah rusak akibat gempa 75.741 unit.

Bisa dibandingkan misalnya dengan gempa dangkal berkekuatan M 7,8 yang melanda Selandia Baru, 13 November 2016, hanya menewaskan dua orang. Beberapa rekan dari luar daerah, khususnya dari Jogjakarta, bertanya, mengapa gempa di Lombok Utara dan Pulau Lombok umumnya yang relatif kecil menimbulkan banyak sekali korban. Sepekan pascagempa terjadi, pertanyaan itu akhirnya terjawab melalui hasil survei Badan Geologi menemukan, area terdampak gempa di Lombok Utara memiliki struktur tanah rentan karena tersusun dari batuan yang lapuk. Intensitas guncangan gempa pada 5 Agustus 2018 mencapai ribuan kali di bulan yang sama.

Selain faktor kondisi tanah, mutu fisik bangunan buruk menjadi faktor utama banyaknya kerusakan. Sehingga bangunan rusak berat mencapai 30-an ribu lebih. Kerusakan parah juga ditemukan pada bangunan pemerintah dan rumah sakit, puskesmas, sekolah, tempat ibadah dan fasilitas sosial lainnya. Kerusakan ini juga akibat dari banyaknya bangunan salah konstruksi.

Situasi dampak gempa sedang di Lombok Utara setahun silam mesti harus memicu perubahan dalam prinsip membangun rumah aman gempa. Besarnya guncangan gempa setahun lalu niscaya menyadarkan masyarakat untuk berubah. Caranya dengan membangun budaya sadar bencana. Pun dengan infrastruktur pemukiman dengan membangun hunian tahan gempa (ramah gempa).

Manajemen Bencana

Gempa melanda Lombok Utara, Minggu, 5 Agustus 2018, mendulum multipihak khususnya pemerintah setempat memikirkan strategi yang tepat untuk mitigasi bencana serta perlunya melahirkan manajemen penanganan bencana, khususnya gempa bumi.

Meski gempa tidak memicu tsunami, tapi hal tersebut membawa pelajaran penting. Kepanikan tak ayal terjadi di masyarakat, khususnya di pesisir pantai sepanjang wilayah Lombok Utara. Mayoritas warga sekitar pantai mengungsi dengan berlarian tunggang langgang mencari tempat yang lebih tinggi lantaran adanya isu air laut naik.

Belajar dari kejadian gempa setahun silam, seluruh elemen masyarakat Lombok Utara harus meningkatkan pemahaman, respons dan kesadaran menyiapkan diri menghadapi bencana.
Respons warga menjadi kunci penting. Apalagi seperti kita tahu Lombok Utara masuk zona merah kategori daerah rentan bencana berdasarkan pemetaan seismologi.

Sejurus dengan konteks zona bencana tersebut, maka budaya sadar bencana menjadi pekerjaan rumah seluruh komponen masyarakat Lombok Utara. Kesiapsiagaan menghadapi bencana harus membudaya di masyarakat termasuk pula di kalangan pemerintah.

Dalam pada itu, edukasi kesiapsiagaan bencana di Lombok Utara dan daerah lainnya di NTB menjadi pekerjaan rumah. Latihan evakuasi gempa perlu dilakukan secara berkala dan kontinyu di sekolah-sekolah, akan tetapi menurut sebuah riset yang pernah dilakukan, hal itu tergantung dari kepedulian pihak luar. Selama kultur sadar bencana belum terbentuk dan menginternalisasi dalam diri setiap individu dalam masyarakat, maka dapat ditebak kesiagaan tidak menjadi arus utama.

Dalam konteks membangun kebiasaan sadar bencana itulah, momentum ulang tahun ke-11 Kabupaten Lombok Utara tahun 2019, perlu dimaknai sebagai momentum bagi masyarakat bumi Tioq Tata Tunaq untuk kebangkitan budaya sadar bencana di semua komponen dan lapisan masyarakat. Segingga, bencana tak dilupakan dalam kehidupan sehari-hari.