Refleksi Semangat Kebangsaan Kaum Muda Indonesia

Oleh : Muhammad Rajabul Gufron (Penerima Beasiswa LPDP Republik Indonesia)

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, pemuda memiliki peran yang luar biasa sebagai ujung tombak perubahan. Tonggak kebangkitan lahirnya kesadaran berbangsa dan bernegara. Peran itu dapat dilihat sejak para pemuda membentuk komunitas politik kebangsaan, sehingga pada tanggal 28 Oktober 1928 menjadi momentum bersejarah yang tak dapat dilupakan, the unforgettable moment dalam menyatukan semangat pemuda Indonesia yang “Satu Tumpah Darah, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa”.

Selain itu, pasca hancurnya Hiroshima dan Nagashaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus juga dimanfaatkan oleh pemuda angkatan 45 untuk mencetak sejarah yang saat ini kita kenal dengan Peristiwa Rengasdengklok. Suatu peristiwa penculikan terhadap tiga orang Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang diawali dengan menyebarkan berita bohong atau hoaks kepada Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Widyodiningrat. Dan dari peristiwa itu kemudian lahirlah teks bersejarah yang disebut sebagai “Teks Proklamasi”. Teks yang merubah status bangsa Indonesia dari bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang merdeka.

Sejak masa kebangkitan nasional tahun 1908 sampai menjelang detik-detik proklamasi dikumandangkan, terdapat berbagai organisasi kepemudaan, seperti Trikoro Dharmo, Perhimpunan Indonesia, dan Budi Utomo. Mereka semua menjadi the grand old man atau dalam istilah Bung Karno stood geeber, dan bahkan mereka menjadi the founding father yang mampu merebut kemerdekaan.

Tak dapat disangkal lagi bahwa eksistensi pemuda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara amat begitu penting, karena merekalah yang memiliki potensi untuk mewarnai perjalanan sejarah umat manusia, they will continue the leadership baton in taking the struggle for the shake of brighter future of a nation.

Semua ideologi yang berorientasi pada strategi revolusi, menganggap bahwa pemuda merupakan tenaga yang paling revolusioner, karena secara psikologis, manusia akan mencapai puncak hamasah dan quwwatul jasad pada usia muda. Hal tersebut menumbuhkan semangat restorasi menuju peradaban yang lebih berkualitas. Dalam setiap kurun waktu, pemuda senantiasa berdiri di garda terdepan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, karena bagaimanapun sosok pemuda yang tangguh tidak akan pernah mengatakan DIA BAPAKKU, melainkan akan selalu menunjukkan INILAH DADAKU. Peran pemuda dalam meneruskan estafet kepemimpinan suatu bangsa dijelaskan dalam firman Allah Swt, Al-Qur’an surah Shad ayat 26;

“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah di muka bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Dalam ayat di atas, Al-Qur’an menunjukkan keterlibatan pemuda sebagai khalifah dalam memimpin suatu masyarakat, Al-Qur’an mengangkat pemuda Daud sebagai simbol seorang pemuda yang mampu menjadi pemimpin bagi kaumnya. Adalah seorang pemuda yang menjadi pemimpin atas dasar kecintaan beliau pada agama dan bangsanya.

Sehingga, ketika ayat ini kita hubungkan dengan konteks kemerdekaan, maka pelajaran yang dapat kita ambil adalah, hendaknya seorang pemuda memiliki kecintaan terhadap agama dan negaranya. Karena Islam mengajarkan, bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Sebagaimana diwasiatkan oleh Al-Maghfurullah Maulana Syaikh TGKH. M. Zainuddin A.M.;
Hidupkan Iman, Hidupkan Taqwa
Agar Hiduplah Semua Jiwa
Cinta Teguh pada Agama
Cinta Kokoh pada Negara

Globalisasi dengan mengusung tema modern menghadirkan sekian banyak problematika yang memerlukan ketahanan mental yang kuat. Dengan kata lain, kehidupan modern dan global sekarang ini justru menghadapkan pemuda dengan tantangan-tantangan yang memerlukan filter yang esktra selektif untuk dapat berdiri tegak di tengah-tengah goncangan itu.

Untuk itu, dengan memiliki ketahanan mental yang kuat. Mental untuk siap bersaing dengan masyarakat global tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal yang kita miliki akan menjadi dasar untuk membangun peradaban bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. Selain itu, menjadi pemuda yang tidak apatis terhadap agama dan bangsanya dengan menanamkan sikap toleransi dan nasionalisme yang tinggi, menjadi salah satu syarat mutlak untuk mampu bertahan di tengah-tengah keragaman bangsa Indonesia. Sehingga akan tercipta suatu tatanan masyarakat yang mampu bersatu di tengah-tengah perbedaan unity in diversity.

Setiap kita membawa peran yang berbeda-beda dan memiliki profesionalitas yang tidak sama. Karena dengan profesi yang beragam inilah kita dituntut untuk bisa mengisi kekosongan di dalam berbagai macam sendi kehidupan yang saat ini membutuhkan peran serta kita semua. Untuk itu, saya, anda dan kita semua merupakan harapan besar akan mimpi Indonesia dalam memajukan sumber daya manusial yang berkualitas untuk Indonesia maju.