Chandra Adi Susila, S.Kep. Ners (Tim Medis Covid-19 RSUD Kabupaten Lombok Utara)

Oleh: Chandra Adi Susila, S.Kep. Ners (Tim Medis Covid-19 RSUD Kabupaten Lombok Utara)

Beberapa minggu terakhir kita dihebohkan dengan munculnya wabah Covid-19, penyakit yang disebabkan oleh virus korona. Torehan sederhana ini saya tulis di salah satu sudut ruang isolasi Central Covid-19 RSUD Kabupaten Lombok Utara. Berangkat dari pengamatan langsung dan pengalaman pribadi sebagai salah satu team work yang turut serta menangani dan memberi perawatan kepada pasien yang diduga terjangkiti Covid-19.

Dalam pengamatan selama ini Virus Corona adalah makhluk yang diciptakan Tuhan yang muncul pada akhir bulan Desember 2019 di Kota Wuhan China. Berdasarkan informasi dari pelbagai kanal media dilaporkan ribuan warga Wuhan meninggal dunia akibat serangan pandemi Corona. Begitu ganasnya virus ini sehingga tak hanya jazad masyarakat biasa saja yang tak mampu bertahan dari serangannya melainkan tenaga medispun juga tidak sanggup menangkalnya.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Wuhan adalah titik awal perjalanan Virus Corona. Saat ini berdasarkan data dari lembaga kredibel bahwa Virus Corona ini telah menyebar di 212 negara atau kawasan di seluruh dunia, salah satunya Indonesia dan tersebar dihampir seluruh provinsi.

Corona adalah ujian sekaligus takdir yang Tuhan tetapkan untuk kita semua. Tugas kita sebagai hamba-Nya adalah ikhtiar untuk menolak penyakit dengan segala sebab yang ada.

Dampak penyakit ini di berbagai media telah kita saksikan berapa korban telah meninggal. Begitu pun tenaga medis yang mana secara logika adalah manusia yang kecil kemungkinan bisa tertular karena mereka dilengkapi dengan berbagai instrumen pelindung diri. Namun apa daya puluhan dokter terkonfirmasi positif Covid-19 serta dilaporkan meninggal. Sampai saat ini ada sebanyak sepuluh perawat pergi meninggalkan kita semua untuk selamanya. Layak kiranya mereka menyandang gelar pahlawan kemanusiaan.

Di tengah wabah bencana nasional non alam ini ada nilai-nilai kemanusiaan yang hilang, entah karena awam pengetahuan ataukah buta imbauan. Corona, mungkin salah satu cara Tuhan melihat kepekaan manusia. Ujian bagi manusia yang sebetulnya tak hanya bisa diukur dari seberapa besar nyawa yang hilang tetapi bagaimana kita berempati pada keadaan. Kita telah melihat berapa banyak korban ditolak untuk dimakamkan, bahkan jenazah tenaga medis sebagai garda terdepan pun tak luput dari penolakan. Bisa kita bayangkan jika tenaga medis tidak memiliki mental yang sama dengan perilaku tak pantas yang dtunjukkan oleh sebagian orang siapa lagi yang bisa diharapkan untuk menjadi garda depan dalam pelayanan kesehatan.

Ironis, fakta nirmanusiawi bahkan tak terhindarkan terjadi. Berbagai cerita kerap terdengar seperti tenaga medis dikucilkan dan diasingkan. Bahkan stigma negatif dilekatkan di tengah kejibakuan mereka bertungkus lumus menangani pasien dan bertahan pada keadaan. Tidak jarang pula kondisi ini kemudian menjadi beban psikologis tersendiri bagi tenaga medis. Fakta terkini, salah seorang pejuang kemanusiaan yaitu perawat Rumah Sakit Kariadi Semarang yang ditolak jenazahnya untuk dimakamkan di kampung halamannya dengan alasan non manusiawi. Pada akhirnya jenazah sang pahlawan dimakamkan di kampung Pimpinan Rumah Sakit Kariadi di Bergota tempat makam keluarga besar pimpinan RS Kariadi. Lalu ketika suasana ini terus dibiarkan mengalir begitu saja misalnya, apalagi kemudian menyebabkan tenaga kesehatan tidak lagi menjadi garda depan pelayanan medis, lalu siapa lagi yang bisa kita harapkan?

Saat ini tenaga medis di seluruh negeri dihadapkan pada persoalan krusial tapi tidak membuat hati mereka gentar. Ditengah keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD) pun mereka tetap semangat serta mampu bekerja dengan fasilitas seadanya, misalnya menjadikan jas hujan pengganti gaun standar, kemudian tas keresek dibuat menjadi cover boot serta berbagai kretifitas lainnya ditera oleh karena keadaan.

Secara psikologis, tenaga medis butuh dukungan moril dari masyarakat luas. Saya berharap pada seluruh masyarakat agar betul-betul memahami tugas tenaga medis seperti memberikan mereka rasa aman dan nyaman, akhiri segala bentuk tindakan yang justru memojokkan apalagi memberi stigma negatif, cukuplah bagi tenaga medis merasakan betapa rumitnya tugas kemanusiaan di tengah wabah ini, biarkan menjadi tugas mulia mereka. Do’akan para tenaga medis tetap sehat sehingga dapat mampu untuk terus merawat negeri ini. Pun kepada seluruh teman sejawat di seantero negeri ini tetaplah semangat, mari kita tunaikan tugas mulia ini dengan penuh keikhlasan dan tanggungjawab. Salam hangat untuk teman sejawat semuanya.





Unduh versi Android situs berita Mataram News DISINI !

2 KOMENTAR

  1. Semangat terus, meski dengan segala keterbatasan, mengabdilah untuk kemanusian semata mengharap Rihdo Allah swt, bukan berharap balasan kepada selainNya, Tuhan Maha melihat apa yang kita nyatakan dan apa yang rahasiakan !

Comments are closed.