DIBALIK EUFORIA BIL

{xtypo_dropcap}R{/xtypo_dropcap}esminya Bandara Internasinal Lombok (BIL) beroprasi sejak tanggal 1 oktober 2011 yang lalu membuat semua kalangan masyarakat gembira ria, baik dari pejabat public, Toga, Toma  hingga masyarakat awam khusunya yang ada di lingkar BIL. Tentu hal demikain karena telah lama dinantikan olehnya, dengan euphoria yang ada tak banyak masyarakat memikirkan apa yang perlu disiapkan oleh dirinya untuk bisa hidup ditengah beroprasinya BIL.

Euporia ini sangat dibuktikan dengan semangatnya masyarakat khusunya yang ada disputaran lingkar BIL yang sampai saat ini masih saja pergi melihat Pesawat secara langsung untuk mengetahui bagaimana proses pendaratan maupun penerbangan dengan jarak dekat. Hal demikian bagi penulis akan berdampak pada kehidupan masyarakat sekitar kedepan tidak akan bisa bersaing hidup di tengah global yang serba terbuka dalam  semua sektor khusunya dunia pasar. Karena tidak memikirkan yang semestinya apa yang akan mreka perbuat untuk mereka dalam menghadapi Oprasinya BIL yang menjadi tanda awal kemajuan daerah Lombok Tengah khusunya dan NTB pada umumnya. Maka penulis mengkhawatirkan akan berimflikasi pada melonjaknya kemiskinan dan pengangguran bagi masyarakat luas khusunya  yang ada di lingkar BIL.

Sebagai proyek daerah yang besar dan lama dikerjakan seperti BIL yang juga diperkirakan menelan anggaran dana hingga Rp 900 M. akan bisa bermamfaat bagi kehidupan yang layak nantinya jika pemerintah mampu memberikan dan menemukan solusi cerdik kepada masyrakat luas untuk bisa mendaptkan uang. Paling tidak nanti harapan penulis, pemerintah mendorong dan memberikan ruang bagi masyrakat umum untuk menjadi pengusaha, pengrajun dll yang perlu dibekali dengan keterampilan dan modal tentunya untuk dapat bertahan hidup di daerahnya masing-masing. karena mengingat sebagian besar masyaraka NTB khusunya yang ada dilingkar BIL adalah awam dan tak berdaya dalam persaingan hidup yang serba modern.

Berangakat dari analisis diatas penulis mengharpak kepada siapapun dan eleman manapun khusunya PT Angkasa Pura (PT AP) dan tanpa terlupakan juga pemerintah yang memiliki kewenangan tinggi atas pengelolaan Bandara Internasional Lombok untuk memperioritas kebutuhan warga lokal. Bebrapa infrastruktur juga harus menjadi pusat perhatian pemerintah terkait. Demi kelancaran proses orasinya BIL karena bukan hanya di kawasan BIL saja yang perlu diperhatikan namun masih banyak sektor-sektor lain yang perlu disentuh dan dirancang sebaik mungkin.

Selain itu keamanan akan menjadi hambatan terbesar untuk kelajuan perputaran perekonomian daerah selama oprasi BIL. Hal ini penulis sangat mengkawatirkan karena mengingat banyaknya insiden yang tak mencitrakkan yang baik bagi dunia terhadap Lombok tengah maupun NTB dan bahkan Indonesia pada umumnya. Kekhwatiran tesebut berdasarkan banyaknya aksi prampokan, jambret dan bahkan isu terbarunya ada pemalakan di sputarn BIl yang menjadi sasarannya adalah pengguna BIL (Baca Radar Lombok Edisi Kamis 6/10/11) yang membuat nahtinya wisata manca Negara akan berfikir seribu kali untuk mendatangkan dirinya ber wisata NTB khusunya Lombok lebih-lebih Lombok tengah bagian selatan yang menjadi pusat wisata.

Adanya insident tersebut tidak lain faktor utamanya ialah keadaan ekonomi masyarakat yang tidak mencukupi kehidupan sehari-hari. Dan dapat membuktikan bahwa upaya polisi dan pihak terkait dalam menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat belum maksimal. Lebih-lebih akhir-akhir ini banyak sekali aksi bom bunuh diri dimana-mana yang dilakukan kelompok-kelompok tertentu dan bahkan secara individu pun kerap kali dilakukan. Jika dari hal kecil saja keamana tidak dapat dijaga. Maka opini publik yang secara internasioanal akan berdampak pada asumsi kepolisain tidak dapat menjaga ketertiban. Tentu hal demikian menjadi pukulan tersendiri bagi kepolosian yang tidak tangguh dan tegas dalam melaksanakan tugas.

Bandara Internasional Lombok (BIL) yang di harapkan nantinya akan membawa damapak perubahan yang signifikan bagi roda perekonomian daerah maupun wilayah. Tentu menjadi keharusan perhatian pemerintah untuk dapat membuktikan keberpihakan pemerintah atas kebijakan-kebijakan yang ada nantinya. Agar masyrakat tidak menjadi penonton semata di daerahya sendiri. Majulah BIL, BERSATULAH TASTURA dan BERDAYASAINGLAH NTB Ku.

{xtypo_sticky}Penulis:  Syamsul Hadi Ketua Umum PK PMII IKIP Mataram dan Putra Asli Lombok Tengah desa Pandan Indah{/xtypo_sticky}

Bagikan :