Dinas Pertanian NTB Gelar Gerakan Penanganan Pasca Panen Jagung di KLU

Mesin produksi jagung bantuan pemerintah untuk petani di desa Mumbulsari

KLU – Gerakan Penanganan Pasca Panen Jagung yang digelar Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Provinsi NTB, menyedot perhatian bahkan disambut hangat para petani jagung dari kelompok tani dan Gapoktan di desa Mumbulsari Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara (KLU), pada Rabu (16/4). Kegiatan tersebut merupakan upaya memotivasi peningkatan hasil produksi jagung khususnya di wilayah KLU.

Kegiatan panen raya jagung itu, memotivasi semangat bagi para petani dari kelompok-kelompok tani dan gapoktan di desa itu dengan kehadiran Direktur Pasca Panen Ir Pending Dadih Permana M Ec Dev mewakili Dirjen Pertanian Tanaman Pangan RI, didampingi Bupati KLU H Djohan Sjamsu SH dan Kepala Dinas Pertanian TPH Provinsi NTB Ir Husni Fahri beserta jajarannya. Hadir juga dari Forum Koordinasi Pimpinan Daerah KLU dan seluruh kepala SKPD KLU, bahkan juga dihadiri Kepala Asosiasi Pedagang Jagung Lombok dan steak holder pertanian yang ada di NTB.

Dalam sambutannya, Bupati KLU, H Djohan Sjamsu SH mengatakan, pembangunan sarana jalan usaha tani, jaringan pengairan dan peningkatan produktifitas melalui penggunaan benih, sebagai upaya Pemkab Lombok Utara untuk target peningkatan khususnya dibidang tanaman pangan. “Semoga panen raya jagung akan lebih memotivasi masyarakat petani di KLU khususnya kelompok-kelompok tani di desa Mumbulsari, agar kedepan lebih serius lagi menangani lahan yang dimiliki”, katanya.

Menurut Bupati, pengembangan sarana dan prsarana seperti jalan usaha tani yang diberikan dari pemerintah pusat itu sudah merambah dari ujung barat sampai timur KLU. Sedangkan dengan pembangunan jaringan pengairan terutama dipinggiran pantai yang lahannya kering, justru di lahan kering itu tumbuh dengan subur berbagai macam tanaman yang dibutuhkan masyarakat, “seperti di daerah ini (desa Mumbulsari) tidak ada air tetapi jagung bisa tumbuh, jika dibandingkan dengan daerah lain yang tandus dan panas tidak bisa tumbuh tanaman yang dibutuhkan”, ujarnya.

Untuk peningkatan produktifitas, lanjut Bupati, melalui penggunaan benih unggul tentu  harus diusahakan oleh petani, karena era sekarang sudah tidak zamannya lagi bertani dengan cara tradisional, pengelolaan pertanian harus dengan cara modern. “Karena, mulut yang akan kita berikan untuk makan itu tambah lama tambah banyak, sementara lahan kita semakin sempit khususnya lahan tanaman pangan”, katanya.

Oleh karena itu, Bupati minta kepada petani untuk mengelola pertanian dengan ilmu dan teknologi. “Inilah yang kita terapkan sekarang, bagaimana produktifitas lahan yang sangat terbatas tetapi hasilnya bisa memenuhi kebutuhan kita, apalagi saya melihat mesin bantuan yang baru didatangkan itu. Kalau kita panen jagung zaman dulu secara tradisional namanya ‘meletuk jagung (bahasa; sasak)’, satu karung bisa dihasilkan dalam waktu dua hari”, katanya.

Untuk itu, Bupati mengingatkan kepada para petani yang telah diberikan bantuan sarana alat dan mesin produksi untuk dimanfaatkan sebaik mungkin, sehingga hasil produksi tanaman jagung seluas 5.800 hektar di KLU bisa ditingkatkan.

“Kalau dulu kita panen hanya satu kali, tetapi sekarang bisa sampai tiga kali, tentu dengan ilmu dan teknologi. Ini yang harus dipelajari, makanya para PPL harus aktif turun ke lapangan. Saya tidak ingin ada PPL hanya dibalik meja, tetapi PPL itu harus terjun langsung memberikan bimbingan kepada para petani kita”, tegasnya.

Selain itu, Bupati juga meminta harus ada sinergi antara pemerintah, rakyat dan lembaga masyarakat untuk membangun daerah. Karena dengan bersinergi memanfaatkan lahan dan teknologi, tahap demi tahap tetapi pasti, sehingga peningkatan derajat kehidupan masyarakat akan lebih baik. “Tentu pekerjaan ini memerlukan waktu dan tenaga, tetapi saya percaya kepada para petani  KLU yang polos dan baik serta rajin-rajin orangnya”, katanya.

Pemkab Lombok Utara sekarang sedang berupaya bagaimana mengganti lahan pertanian yang telah digunakan sebagai tempat membangun fasilitas kantor, dengan memperluas percetakan sawah. Di tahun 2014 ini, menurut Bupati, masih ada program percetakan sawah bagi masyarakat yang ingin mencetak sawah akan diberikan dana per satu hektar Rp 10 juta. “Pemerintah mana di dunia ini yang ngasi duit kepada petani yang ingin mencetak sawah”, ujarnya.

Untuk pengamanan produksi seperti pengendalian hama dan penyakit, kata Bupati, perlu ditangani dengan ilmu dan teknologi. “Semakin hari hama ini tambah lama tambah modern, bagus hasil kita bagus juga hamanya”, katanya. Oleh karena itu, Bupati menegaskan kepada para penyuluh pertanian lapangan untuk bagaimana harus dekat dengan masyarakat. “Kita harus berada ditengah-tengah masyarakat, jangan hanya tidur, duduk dikantor saja, tetapi turunlah anda semuanya untuk memberikan semangat dan motivasi guna membina dan mendidik para kelompok tani agar bisa menjadi petani yang modern”, katanya.

Optimalisasi Alat dan Mesin Bantuan Pemerintah

Uji coba mesin produksi jagung bantuan pemerintah untuk petani di desa Mumbulsari pada acara panen raya jagung

Pemerintah pusat maupun daerah akan terus berupaya agar tahapan pengembangan bagi petani sehingga bisa lebih meningkatkan nilai tambah yang ada. Ini dikatakan Direktur Pasca Panen, Ir Pending Dadih Permana M Ec Dev mewakili Dirjen Pertanian Tanaman Pangan RI, dihadapan para petani pada panen raya jagung di desa Mumbulsari.

Menurutnya, pada tahun 2014 ini bantuan mesin pemipil jagung kapasitas besar dengan kemampuan produksi 1 jam menghasilkan 3,5 ton dengan kadar air sampai 25 persen tidak pecah, diberikan untuk petani jagung di desa Mumbulsari. Bahkan pada tahun 2013 lalu juga pernah diberikan bantuan penepung jagung, namun mungkin tempatnya yang belum cocok.

Jagung, menurut Ir Pending Dadih Permana, merupakan jenis tanaman yang mereflekasi atau memiliki kemampuan memperbanyak diri yang paling banyak, “dari satu biji bisa menghasilkan 620 biji baru, ketimbang padi satu biji gabah akan mengahasilakn 165-167 biji, apalagi sekarang ada dikembangkan lagi bibit hybrida yang 1 biji padi bisa menghasilkan 370 bulir, namun yang paling banyak jagung.

Inilah, makanya kata Dia, kemampuan produksi yang begitu tinggi dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki, tentunya perlu ada penanaman dan penangan secara terintegrasi. “Di daerah ini kita bisa kembangkan hanya satu kali dalam satu musim, sehingga kami berharap bisa nambah satu kali tanam yaitu kedelai atau kacang tanah, karena KLU terkenal dengan kacang tanahnya, ada varietas kepundung yang biasa ditanam sama dengan di daerah Pringgarata, itu merupakan keunggulan bagi varietas kita di KLU”, katanya.

Sementara, untuk perbaikan infrastruktur, menurut Direktur Pasca Panen ini, menjadi penting terutama jalan usaha tani yang sudah difasilitasi dari pusat yang masuk di KLU, jaringan irigasi tingkat usaha tani dan jaringan irigasi desa. Ia meminta kepada masyarakat petani jangan hanya bisa minta bantuan seperti mau dibangun bendungan, namun kayu masih banyak turun dari atas gunung yang mengakibatkan sumber air berkurang. “Kaitannya dengan pembangunan bendungan dan lainnya, tentu ada perencanaan, dimana posisinya, sumber airnya dari mana, biayanya memadai atau tidak, berapa areal yang terairi dan sebagainya”, ujarnya.

Selain itu, ia berpesan jalan usaha tani di sterilkan dari areal pembangunan, untuk ditata dengan baik sehingga tidak mengurangi areal yang ada. Pemerintah telah mem
fasilitasi pada tahun 2014 ini untuk SLPTT jagung seluas 500 hektar. Sarana dan prasarana yang cukup banyak masuk ada di KLU, “tentu kepala dinas ‘sapu jagad’ (sebutan untuk Ir Hermanto, kepala Dinas Pertanian Perkebunan Kehutanan Kelautan Dan Perikanan KLU), karena ditangani dari gunung sampai laut di KLU, berharap bisa terkawal dengan baik”, katanya.

Para petani sudah menunjukkan kemampuan menggunakan alat bantuan, tinggal bagaimana memaksimalkan alat yang ada, selain itu petani harus diberikan bimbingan teknis pasca panen sesuai dengan prinsip-prinsip penanganan panen dan pasca panen yang baik, sesuai peraturan Menteri Pertanian tentang kode etik pasca panen, sehingga menghasilkan mutu yang bisa dipertanggungjawabkan.

“Sering terjadi jika kelompok tani diberikan bantuan peralatan seperti memiliki peralatan sendiri tidak dipergunakan dengan maksimal atau penggunananya secara bergilir untuk seluruh petani jagung di daerah ini”, ungkapnya, namun jika itu benar, maka optimalisasi bantuan belum berhasil, artinya masih ada yang menguasai alat-alat bantuan.  

Untuk itu, ia meminta agar bantuan alat dan mesin seperti satu unit mesin produksi kapasitas besar dan tiga unit mesin multiguna untuk kedelai, padi dan jagung itu, agar dioptimalkan dan dimanfaatkan bersama, karena bantuan itu untuk kawasan.

Diharapkan bantuan-bantuan tersebut bisa menjadi salah satu unit usaha jasa alat dan mesin pertanian untuk memperkuat permodalan bagi kelompok tani. Sehingga pada musim berikutnya tidak lagi mencari bantuan ke pemerintah, tetapi mengembangan dari modal usaha yang ada.

[Gus]