Menu
Kamis, 24 Mei 2018 | 12:37:00 am

Pakar Energi Sebut Era PLTN Harus Segera Dimulai di Indonesia

Anggota DPR RI, Dr. H. Kurtubi Anggota DPR RI, Dr. H. Kurtubi

MATARAM – Di Indonesia, era PLTN diharapkan bisa dimulai tidak lama lagi ditengah arus besar kebijakan energi dunia yang mengarah pada penggunaan energi yang bersih dan ramah lingkungan.

Pakar Energi sekaligus Anggota Komisi VII DPR RI, Dr H Kurtubi, berharap PLTN bisa dimulai pada periode ke-2 kepemimpinan Jokowi-JK. Dimana ekonomi diharapkan bisa tumbuh lebih tinggi menuju pertumbuhan diatas 7 persen.

"Ini perlu, agar kita bisa mengejar ketertinggalan kita dari Korea, Jepang dan China. Namun dengan energi yang bersih," ujar Kurtubi, Kamis (19/4/2018).

Agar ekonomi bisa tumbuh lebih cepat, kata politisi Partai Nasdem ini, maka listrik yang tersedia harus cukup, reliable dan stabil menghasilkan listrik dalam 24 jam. Pasalnya, semua pabrik atau industri beroperasi 24 jam.

Sementara Energi Baru Terbarukan (EBT), seperti tenaga angin, surya, biomas dan lain lain yang dibutuhkan karena bersih., sama dengan energi nuklir atau PLTN.

Menurut Kurtubi, EBT dari tenaga angin, surya dan lain-lain kurang tepat untuk menjadi andalan industrialisasi, karena tidak stabil dan sangat tergantung pada teknologi baterai yang berpotensi juga merusak lingkungan. Namun EBT tetap harus dikembangkan.

"Sedangkan PLTN selain bersih juga stabil 24 jam sehingga tidak membutuhkan baterai. Teknologi PLTN terus berkembang untuk semakin aman dan semakin murah," ungkap anggota DPR RI Dapil NTB itu seraya meyakini Indonesia dengan potensi Uranium dan Thorium yang besar, sangat tepat untuk segera mulai mengembangkan PLTN.

Kebijakan energi jaman NOW, lanjut Kurtubi, harus melipatgandakan pemakaian energi bersih dari EBT dan segera mulai memakai energi dari PLTN dengan emisi karbon yang sangat rendah, hanya sekitar 0.1 grm dari setiap pemakaian 1 kwh listrik dari PLTN.

Sementara setiap 1 kwh listrik dari PLTU dan PLTD menghasilkan 1000 gram dan 800 gram emisi karbon. Dalam sejarahnya, meski Jepang merupakan satu-satunya negara yang pernah merasakan dahsyatnya radiasi bom nuklir, bahkan meski Jepang juga termasuk negara yang berada diatas ‘ring of fire’, Jepang tercatat sebagai salah satu negara yang sejak dini memutuskan memanfaatkan PLTN.

Diketahui data menunjukkan industri dan ekonomi Jepang tumbuh sejalan dengan pertumbuhan jumlah PLTN-nya. Musibah Fukushima disebabkan oleh tsunami dimana teknologinya termasuk teknologi “jaman OLD” (yakni PLTN Generasi ke II dan Chernobyl termasuk generasi I). Musibah Fukushima sempat menghentakkan Jepang dan dunia.

Disisi lain kejadian tersebut telah memicu para ahli nuklir untuk melakuan inovasi mencari solusi apabila PLTN dilanda tsunami. Kini telah lahir PLTN Generasi IV yang sudah sangat aman dan dengan costs yang lebih murah.

Sejarah kemajuan Korea juga mirip dengan Jepang bahwa GDP Korea sangat berkolerasi dengan jumlah kapasitas PLTN-nya. Kini Korea sudah mampu mengekspor PLTN dan masuk Club Negara Industri Maju seperti Jepang.

Contoh negara yang saat ini akan menjadi Negara Raksasa Industri Maju adalah China. China mulai membangun PLTN Pertama kali sekitar tahun 1980-an dengan membeli teknologi dari luar. Dalam 2 sampai 3 dekade terakhir ini jumlah PLTN terus bertambah hingga saat ini menjadi sekitar 30 unit.

Kurtubi menuturkan,bahwa minggu kemarin dirinya menjadi bagian dari delegasi ASEAN Energy Center diundang mengunjungi PLTN Fangchenggeng di China dimana sedang dibangun 4 unit PLTN melengkapi 2 unit yang sudah beroperasi sehingga akan menjadi 6 x 1200 MW.

"Semua dibangun dengan teknologi dan komponen yang sepenuhnya dibuat sendiri. Kemajuan China dibidang teknologi, inovasi dan industri Nuklir sangat mencengangkan rombongan delegasi," tutur Kurtubi.

Dari yang semula pengimpor PLTN kini menjadi bagian dari negara pengekspor PLTN termasuk teknologi nuklir non energi dibidang kesehatan, pertanian, kabel listrik dan lain-lain.

"Tak ayal lagi, kemajuan ekonomi China tidak bisa dilepaskan dari kemajuan industri berbasis nuklir serta kemampuannya menyediakan listrik yang cukup dan stabil dalam menunjang proses industrialisasi yang saat ini sedang berlangsung," tutup Kurtubi.

(mn-09)

^ KEMBALI KE ATAS

Top News