Menu
Jumat, 24 November 2017 | 9:07:00 am

Didu Sebut PDIP NTB Gentle dan Satria

Didu Sebut PDIP NTB Gentle dan Satria

MATARAM - Mi6 menganggap langkah politik yang diambil PDIP NTB mencabut dukungan ke Ali BD sebagai langkah yang gentle dan satria untuk menjaga marwah atau kehormatan partai dimata konstituen. Juga agar PDIP NTB tetap dihargai dan dihormati dengan mengambil sikap seperti politik ini.

Apa yang dilakukan PDIP tidak bisa dikatakan "kekalahan" politik tapi lebih tepat sebagai upaya untuk memastikan standing politik moncong putih dalam dinamika politik pilkada yang cepat dan dinamis.

"PDIP ingin memberikan pelajaran etik dan moral politik yang baik ke publik tentang makna take and give dalam pengertian yang sesungguhnya," ujar Didu panggilan akrab Direktur Mi6 Bambang Mei Finarwanto SH, melalui siaran pers yang disampaikan ke media ini, Jumat 27 Oktober 2017.


Mereview perjalanan politik sebelumnya, menurut Didu, bahwa PDIP sudah membuat call politik yang tinggi terhadap Ali-Selly yang di tetapkan dalam forum Rakerda partai. Ini artinya secara politik, PDIP memberikan kehormatan dan legalitas terhadap paket Ali-Selly.

"Pasti sudah ada komunikasi politik sebelumnya, sehingga PDIP NTB mengumumkan paket Ali-Selly di forum Rakerda. Ini call politik yg tinggi," ujar Didu seraya mengatakan tidak pernah terjadi di era pilkada sebelumnya PDIP mengumumkan paket calon yang didukungnya di forum Rakerda.

Paska penetapan paket Ali-Selly ini justru terkesan opini yang berkembang Cagub Ali BD melakukan buying time. Statement politiknya di media terkesan tidak tegas dan multi tafsir. "Padahal PDIP inginnya Ali BD on the track dengan Selly sebagaimana komitmen diawal," sambungnya menganalisis.

Sementara itu sebagai bentuk komitmen dan kesungguhan, PDIP melalui kader kader menggalang dukungan dan mensosialisasikan paket Ali-Selly di basis massa dengan sepenuh hati dan berdedikasi. "Tapi ini juga tidak membuat Ali segera mendeklairkan diri berpasangan dengan Selly," tambah Didu.

Belakangan muncul baliho baliho Ali dengan cawagub lain. Bahkan di medsos muncul paket Ali-Sakti. Selain itu spekulasi berkembang bahwa Ali BD tidak memakai jalur partai tapi perseorangan.

Dengan maraknya aneka ragam branding Ali BD dan cawagub lain dan statement politik Ali BD yang mengambang, secara psikologis politik tentu PDIP menganggap tidak elok dan kurang taktis. "Jadi wajar PDIP exit lebih awal dan menarik dukungannya," tandas Didu.

Sementara itu disisi lain Didu melihat bisa jadi dengan maraknya cawagub lain ingin berpasangan dengan Ali BD dikarenakan ada daya tarik yang kuat pada diri Amaq Asrul ini.

"Mungkin ini salah beban psikologis dari Ali BD yang tidak enak menolak atas semua niat cawagub lain yang ingin disandingkan dengannya," jelas Didu berargumentasi.

Terakhir Didu menggarisbawahi bahwa setidaknya PDIP NTB sudah memberikan perspektif politik kepada publik. Bahwa dalam politik itu komitmen diawal harus paralel dengan komitmen diakhir.

"Kesatuan sikap dan bahasa penting untuk memastikan kerja kerja politik di basis terukur dan punya target yang berkepastian," pungkasnya.

(mn-09/r3)



^ KEMBALI KE ATAS

Topik