Menu
Selasa, 16 Oktober 2018 | 3:22:21 pm

Melihat yang Idealis dan Realis dalam Pilkada Lobar 2018

Melihat yang Idealis dan Realis dalam Pilkada Lobar 2018

Politik adalah alat untuk mewujudkan ide-ide cemerlang. Jika idenya suci maka politik pun cenderung terlihat santun dan arif namun jika idenya kotor maka cara-caranya pun cenderung terlihat kotor.

Politik berbicara masalah kekuasaan, dengan kekuasaan sang penguasa mewujudkan kesejahtraan melalui berbagai macam cara, baik yang terukur maupun tidak terukur. Pun demikian halnya juga melalui kekuasaan yang sama, sang penguasa dapat menyengsarakan rakyatnya hingga ke titik nadir.

Dari uraian di atas, maka kekuasaan yang terbatas itu akan menjadi suatu hal yang diperebutkan, baik oleh aktor-aktor idealis maupun aktor yang realis. Aktor realis diwakili oleh para Marchivilian dengan selogan yang terkenal yakni "merebut dan mempertahankan kekuasaan dengan segala cara" baik cara positif maupun negatif. (Marchiaveli, buku The Prience) sebagian besar penganut aliran ini adalah para penguasa otoriter, totaliter, pemimpin militer, politisi praktis dan para koruptor (baik yang ketahuan maupun yang masih belum ketahuan). Mereka percaya bahwa berbicara politik berarti berbicara bagaimana seni menipu ”deceive art”, seni berkilah, otak-atik kata dan pikiran serta konspirasi karena tidak ada musuh yang abadi, yang abadi adalah kepentingan. Selagi kepentingan tercapai, teman pun bisa jadi lawan dan musuh bisa jadi sahabat politik.

Aliran kedua di wakili oleh al-Mawardi dalam kitab al-Ahkam al-Sultoniah, politik pada awalnya masuk di dalam perbincangan tentang moral "tindakan yang mempertimbangkan baik dan buruk". Untuk meraih kekuasaan, aktor-aktor idealis menjunjung politik etis sedangkan aktor realis tidak mempertimbangkan dua hal tadi, asalkan kekuasaan dapat diraihnya. Berbicara politik berarti berbicara masalah kemaslahatan umat, tentu dengan siasat-siasat yang etis yang tidak melanggar norma-norma agama. Memperiotitaskan kemaslahatan dari pada kemudaratan. Baik Marchiaveli maupun al-Mawardi sebenarnya mengusung politik etis di zamannya masing-masing, akan tetapi masyarakat menggunakan/menempelkan predikat kedua tokoh ini dalam bentuk yang berlawanan (idealis untuk al-Mawardi dan realis untuk Marchiaveli).

Di Lombok Barat pada tahun 2018 ini akan digelar pemilihan umum daerah (pilkada). Terhitung mulai detik ini para aktor idealis dan realis sudah mulai merebut simpati masyarakat ”Personal Branding”, mereka menimbang-nimbang sosial kapital yang dimilikinya serta sosial kapital yang dimiliki musuh mereka. Sumberdaya-sumberdaya atau disebut tadi sebagai sosial kapital inilah yang digunakan merebut dan mempertahankan kekuasaan, baik dengan cara realis maupun dengan cara idealis, karena dalam politik kedua cara tersebut sah-sah saja. Intrik-intrik politik semacam iru tidak menampilkan wajah sebenarnya, menggunakan topeng ala dewa dan malaikat di tengah-tengah masyarakat sudah biasa diperlihatkan sejak sistem demokrasi langsung dimulai di Lombok Barat.

Pilkada 2018 akan seru karena elite lama dan pemain baru juga ikut bermunculan mewarnai bursa pertarungan calon Bupati dan Wakil Bupati, orang-orang itu seperti: Fauzan Khalid (Pertahana) bersanding dengan Hj. Sumiatun, Nauvar Furqoni Farinduan bersanding dengan TGH. Muammar Arafat, Izul Islam bersanding dengan TGH. Khudori Ibrahim.

Dengan tim sukses yang berpengalaman, mereka akan merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, mengontrol serta mengevaluasi strategi guna merebut hati rakyat. Tak jarang black campain dan negatif campain juga akan digunakan untuk saling menyerang satu pasangan dengan pasangan yang lain.

Masyarakat Lombok Barat dalam posisi ini dituntut untuk jeli dan selektif melihat mana yang idealis dan yang realis terhadap elektibilitas, capabilitas dan integritas dari trackrecord para calon-calon Bupati dan wakil Bupati, tidak tepengaruh money politic karena politik pemilihan umum bukan masalah ”uang satu hari”, akan tetapi menentukan nasip rakyat lima tahun ke depan. Politik pemilihan umum bukan masalah pemenuhan nafsu politik para elit, akan tetapi memperjuangkan kemaslahatan umat semua agama, hidup aman, damai, sejahtera dan bermartabat. Akhirnya, dari terminologi idealis dan realis ini, maka masyarakat Lombok Barat dapat memilah dan memilih mana yang pro rakyat dan mana yang bakal menyengsarakan rakyat.

 

Penulis : Agus Dedi Putrawan, M.S.I (Dosen Politik dan Pemerintahan dalam Islam di UIN MATARAM) 

^ KEMBALI KE ATAS

Topik Hangat bulan ini !

Kolom


MATARAMNEWS.CO.ID adalah situs media pemberitaan online. Melayani informasi dan berita khususnya mengangkat isu lokal daerah Nusa Tenggara Barat dengan memberdayaan kecepatan serta kedalaman informasi yang dikelola oleh jurnalis-jurnalis lokal yang handal.  Media online ini diperbaharui selama 24 jam dalam sehari, dan secara kreatif dan apik mengkolaborasikan teks, foto, video dan suara. Tim Kreatif Redaksi selalu berupaya menerapkan standar jurnalisme berkualitas dalam setiap liputan Salam Redaksi

Selalu Terhubung :